Friday, 5 September 2014

Waktu untuk Bapak Tua

Hari sudah hampir sore, suasana gelap ditambah dengan awan mendung yang menggumpal diatas kepala. Sebuah toko jam 3,5x8 meter dengan 12 lampu 40 watt yang hanya dinyalakan 6 buah saja.


Berjajar jam duduk serta jam dinding dari berbagai ukuran, bentuk dan warna di dinding maupun etalasenya. Rapi dan berdetak. 


sumber : http://www.elegantwedding.ca/2014-01-22/inspiration/emerald-green-elegant-wedding/


Pemilik toko tersebut adalah seorang bapak tua dari etnis cina, sedang duduk, terlihat termenung dan bermuka sendu. Rambutnya hitam tebal dengan sisiran rapi, tidak berjanggut namun berkumis sewarna dengan rambutnya. Kulitnya putih dan bersih, perawakannya masih tegap di umurnya yang sudah menginjak 60 tahun. Memakai kemeja putih yang dimasukkan kedalam celananya dan diberi ikat pinggang yang bersinar karena braso. Tapi yang agak aneh, ia memakai jam tangan, untuk apa toh? Di sekitarnya banyak jam, ia tidak akan mungkin lupa waktu. Benarkah begitu??

***

Aku adalah sebuah jam dinding. Orang bilang aku cantik dan misterius.. ditaruh tepat di tengah-tengah toko, aku menjadi pusat perhatian pertama orang-orang yang baru memasuki toko.. aku terbuat dari kayu rosewood yang diraut dengan cantik sekali, seratku terlihat meliuk-liuk dalam perbedaan warna.. bentukku bulat, sempurna seperti bulan, dengan jarum yang ramping seperti tangan para penari.. angka-angka ku berkilat tersorot matahari sore, ia terbuat dari logam yang dicat warna hitam pualam dan bersinar dalam gelap.. aku adalah jam dengan ukuran paling besar yang berada di dalam toko.. aku adalah penegasan terhadap siapa yang datang, bahwa dia telah datang ke sebuah toko jam.. hanya satu kekuranganku.. aku telah mati, tidak berdetak.. hanya aku, jam yang tidak berdetak di toko ini..


Beberapa kali para pembeli mencoba bertanya berapa hargaku, dan hanya dijawab oleh bapak tua “maaf jamnya tidak dijual, jamnya sudah mati..” dengan arah wajah yang tidak pernah lurus selama percakapan.. ada beberapa pembeli yang berkomentar “kalau sudah tidak dijual, kenapa masih dipajang? Wah membuat penasaran saja..” dengan sedikit “huh!” di akhirnya.. ada juga yang menyayangkan “wah sayang sekali sudah mati, padahal bagus sekali jamnya untuk dipasang di rumah-rumah besar atau masjid sangat cocok!” ya memang begitu.. aku tahu.. aku cantik dan menawan, tapi aku mati.. aku tahu, semua orang tahu..


Tapi tentang pak tua ini, orang-orang tidak banyak tahu tentangnya, terlihat dari perbincangan dua anak buahnya yang sering berkata “kenapa sih bapak tua ini begini?” atau “kenapa sih bapak tua ini begitu?” seakan mereka baru saja mengenalnya.. yang kuperhatikan juga begitu, ia tidak pernah banyak bicara, berbincang dengan para pekerjanya hanya seperlunya.. bukan berarti ia sombong atau jahat, tidak.. buktinya pekerjanya yang memang hanya dua sangat setia terhadapnya, sudah bekerja padanya selama 10 tahun.. bahkan kadang mereka dengan sukarela bekerja melebihi jam kerja hanya untuk membantu bapak tua ini, atau membantunya memasak dan membersihkan rumahnya yang ia tinggali hanya sendiri..

sepotong toko jam - 12/11/2013

No comments:

Post a Comment