Dunia ini begitu indahnya, pantas saja banyak orang jatuh cinta padanya. Lupa untuk bersikap biasa saja.
Hari ini aku mendongak memandangi langit yang bertotol awan dengan pandangan yang begitu luasnya. Tidak ada mall tinggi yang menghalangi, gedung perkantoran yang menutupi, atau rumah-rumah bertingkat yang berlomba-lomba tinggi. Cantik sekali, biru muda hasil bias cahaya matahari yang memantul. Awan berlapis-lapis, tipis, tebal, menggantung rendah, menggantung tinggi. Kapas putih, abu-abu, keemasan atau merah jambu. Awan yang kadang serupa kerajaan, lalu serupa gulungan ombak ataupun bebas seperti apa yang imajinasimu mau. Serupa hidung mantan, bentuk kaki gangren pasien diabetes, atau mirip congor sapi yang dirujak.
Andai saja dunia kotak, aku yakin tidak ada tempat yang terlalu jauh yang dapat memisahkan dua orang.
Jika saja dunia kotak, jika kau lari dariku sampai ke ujung, maka aku bisa saja menyudutkanmu.
Jika bumi ini kotak, aku tak perlu bercita-cita jadi astronot. Naik kapal ke pinggir bumi, lalu aku melompat maka aku berada di angkasa.
Jika bumi ini kotak, maka aku akan mengkhayal jika bumi ini bulat.
Jika bumi ini kotak, barangkali tidak akan ada debat tentang tuhan. Karena bentuk bulat hanyalah ketidaksengajaan.
Jika bumi ini kotak, kemanakah kita harus menghadap kiblat?
Jika bumi ini kotak, barangkali kutub utara akan kering karena airnya tumpah ke belahan barat dan timur bumi.
Jika bumi ini kotak, kamu tidak akan terlalu jauh dari aku, sejauh lima kata.
Irs // 02012016