15:37 Bilih bade ngiring
15:37 Pp
Kata si Doddy, ujug-ujug sambil ngirim e-poster ajakan ke Gunung Burangrang tanggal 26 Maret 2016 bareng sama BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) *Pp = pulang pergi. Yang tentunya saya iyakan walaupun saya bukan pengurus bahkan relawan BSMI. Mereka biasa mengadakan acara seperti ini dengan tujuan untuk melatih psikis dan fisik ke-relawanan mereka. Muslim yang kuat lebih disukai Allah daripada muslim yang lemah bukan? Itu kata hadits.
Sebenarnya Gunung Burangrang sangat dekat dengan rumah saya, terlihat jelas menjulang dari atap rumah jika hari cerah. Naik motor ke kaki gunungnya saja hanya memakan waktu satu jam. Menurut sejarahnya, Gunung Burangrang merupakan sisa hasil letusan Gunung Sunda pada Zaman Prasejarah. Gunung yang kalo kata wikipedia tingginya 2.064 mdpl, sebenarnya hanyalah 2.050 mdpl menurut tugu yang berdiri di puncaknya. Jadi harus percaya yang mana? Jangan percaya siapa-siapa, ukurlah sendiri.
Kami berkumpul dan memulai trekking dari rumah salah seorang relawan BSMI bernama Madrid (Keren kan namanya? Apakah dia turunan Spanyol? Boro-boro, itu singkatan dari Muhammad Ridwan :D). Lokasi rumahnya berada di kaki Gunung Burangrang tepatnya di Kampung Pies, Desa Cipada, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan perkampungan yang sangat nyaman dan jauh dari hingar bingar perkotaan. Kami dijamu dengan sangat baik (semoga dibalas berkali-kali lipat oleh Allah SWT) diberi sarapan, dibawakan bekal dan diperbolehkan mandi-mandi dan bersih-bersih setelah turun gunung, bahkan dibikinkan air panas untuk mandi
Sebenarnya jalur pendakian menuju Gunung Burangrang ada banyak, tapi karena kami naik bersama penduduk asli sana jadi kami tidak melewati pos resmi di daerah Komando (sebutan untuk check point pendakian ke Gunung Burangrang) melainkan lewat jalur Situ Cipada (Danau Cipada). Enaknya lewat jalur ini adalah kita tidak harus melapor dan bebas untuk masuk kawasan karena terkadang jalur Komando ini ditutup jika ada latihan TNI. Jalur ini melewati perkebunan teh milik PT Perkebunan Negara, sawah dan perkebunan milik warga sekitar.
Melewati kebun teh milik PT Perkebunan Negara
Tim kami kali ini terdiri dari Kang Soleh, yaitu bujangan kelas 3 SMA yang berperan sebagai guide yang mungkin sudah berpuluh kali naik turun gunung ini. Kang Hatta, yang seumur dengan Kang Soleh yang juga berperan sebagai guide, tapi datangnya menyusul karena harus sekolah dulu! Luar biasa! Pulang sekolah langsung naik gunung, dan dia adalah adik dari Kang Madrid tapi tidak mirip. Kang Madrid, sebagai tuan rumah yang baik hati dan tidak sombong, seorang guru MTS di pesantren Manba’ul Huda di daerah Buah Batu, juga seorang relawan BSMI. Kang Doddy, yah si Doddy lah anak analis tea, orang Sumedang yang kerja di Biofarma. Kang Hanif, engineering designer jebolan POLMAN yang kerja di Buah Batu dan ternyata tetangga beda satu blok di Cipageran. Teh Salma, teman SMA yang keturunan Arab, anak analis yang sekarang kerja di RSP UNPAD bareng si Inas, rupanya si Salma aslinya orang Palembang. Teh Anisa, relawan BSMI, dan sekarang masih kuliah di D-4 Gizi. Teh Ria dan Teh Gina yang selalu bersama tidak boleh dipisahkan karena perbedaan karakter mereka akhirnya saling melengkapi, relawan BSMI yang masih kuliah di jurusan analis kesehatan dan ngekost dan ngasrama di daerah Gunung Batu.
Istrirahat dulu jeng
Saya lagi malas menulis “how to get there” karena ya males weh, ini juga masih nyareri awak (sakit-sakit badan). Pokoknya setelah kami melewati perkebunan teh, kami melewati perkebunan pinus yang getahnya disadap, bertemu sawah dan kebun warga, bertemu sungai yang sangat jernih untuk kami cuci muka dan mengisi tempat air minum, sempat membuat jatuh seorang pesepeda gunung karena stangnya menyenggol tas Teh Salma, memetik jambu batu milik masyarakat yang sangat enak sambil istirahat, dan bertemu bunglon yang diam saja di pinggir jalan setapak. Ah itu baru sedikit gambaran yang jika diceritakan secara detail mungkin bisa jadi buku 30 halaman.
Sebenarnya di jadwal perjalanan yang direncanakan, kami berkumpul jam 07.00 di rumah Kang Madrid, kemudian mendaki selama 4 jam (karena orang sana yang sudah terbiasa, dalam 2 jam saja sudah sampai puncak). Rencananya kami akan sudah berada di basecamp lagi jam 16.00 WIB. Logistik sederhana saja, bekal makanan, obat-obatan pribadi, jas hujan, senter dan jaket. Sebenarnya saya agak malas membawa jas hujan, senter dan jaket, tapi itu nanti diceritakan di paragraf selanjutnya.
Rupanya tidak semudah itu mencapai rumah Kang Madrid, kami baru sampai di rumah Kang Madrid jam 08.00 kemudian disuguhkan sarapan dulu sehingga kami baru berangkat jam 09.00 WIB. Memang terlalu siang untuk naik gunung, tapi karena kami ditemani orang yang sudah hapal betul kami menjadi merasa tenang. Jalur Situ Cipada ini rupanya memutari gunung, selama beberapa jam kami melalui jalanan yang kebanyakan datar atau malah menurun, jika menanjak pun hanya menanjak sedikit. Pendakian yang sesungguhnya baru dimulai saat adzan dzuhur sudah berkumandang.
Hutan pinus yang diambil getahnya
Jujur saja, sebelum saya menyelesaikan umur 25 tahun di pertengahan Maret kemarin rasanya saya adalah orang yang berstamina bagus. Naik Gunung Gede dan Cikuray dengan carrier berkilo-kilo saya adalah termasuk yang tercepat bahkan dibanding laki-laki. Disaat yang lain sedang istirahat kelelahan saya masih bisa berjalan naik dan beristirahat tidak sebanyak mereka. Tapi kemarin ini lain, saya merasa sangat kelelahan, saya dan Salma menjadi pendaki yang terakhir (memang faktor U kali ya :D) dan saya pun merasa mental saya sangat jelek saat itu, bahkan saya sempat mau menyerah saja padahal kami hanya membawa ransel! Satu ransel! Aduh apalah kami ini tanpa para lelaki perkasa ini, mereka membantu membawakan tas Gina, membawakan jaket saya dan Salma, pun menunggui sampai tenaga kami pulih. Padahal saya biasanya gengsi kalau merepotkan orang seperti itu, huh.
Jalur pendakian kami sepertinya sudah lama tidak dilewati, kami banyak membabat tanaman yang lebat melintangi jalan setapak, pertanda sudah lama tidak dilewati orang. Merangkak merunduk dibawah terowongan semak, melipir ke kiri atau ke kanan karena jurang, mendaki vertikal 70-80 derajat, lengkap dengan jalanan yang licin karena hujan dan gerimis. Kami sempat berhenti sholat di tiga perempat perjalanan, saat itu hujan, saya tidak sholat dan bertugas memfoto. Perjalanan kami lanjutkan hingga kira-kira sampai di ketinggian 1900 mdpl kami putuskan untuk berhenti, waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Kemudian kami makan, istirahat sambil bercanda bercerita dan berfoto. Kami harus memulihkan tenaga untuk perjalanan pulang. 6 jam perjalanan, Ini baru mendaki.
Jambu halal 1
Jambu halal 2
16.30 WIB kami turun, sempat khawatir kami masih di hutan saat gelap datang. Nah rupanya ini pelajaran berharga bagi saya yang sempat berpikir untuk tidak jadi membawa senter, jaket dan jas hujan. Rupanya hal yang serupa pun dialami Salma dan Ria, mereka sempat berpikir untuk tidak membawa jaket dan jas hujan. Sematang apa pun rencana kamu, gunung adalah gunung, hormati dia dengan tidak meremehkan dan menebak-nebak apa yang akan terjadi. Peralatan standar safety adalah hal yang utama, meskipun itinerary mengatakan kita sudah akan sampai basecamp jam empat sore. Jas hujan dan jaket yang diremehkan karena merasa ini hanya 2.050 mdpl, kami akan tahan dengan suhu dinginnya. Begitu pula senter, karena merasa sore hari sudah sampai kaki gunung. Padahal bisa saja kami tambah merepotkan berkali-kali lipat jika tidak membawanya.
Perjalanan turun tidak selama perjalanan naik, memang seperti itu, tapi tepatnya karena kami melewati jalur yang berbeda dan tidak kembali melewati perkebunan teh melainkan memotong jalur hingga bersimpangan dengan jalan raya dan akan menyewa angkot. Menuruni gunung lebih menyenangkan karena kami banyak terpeleset namun tidak sampai terluka, aku tepatnya sering sekali terpeleset, hahaha. Di tempat kami merangkak di bawah semak kami meluncur dengan pantat, mirip seperti wahana mainan anak-anak, baju dan jaket tidak ada yang selamat dari lumpur. Celana, rok dan sepatu? Tidak usah ditanya lagi. Kabut sangat pekat ketika maghrib datang, jarak pandang hanya satu meter jelasnya. Alhamdulillah sekali kami ditemani Soleh dan Hatta yang sangat hapal jalan, tidak terbayang jika tanpa keduanya.
Sampailah kami di pemukiman warga kira-kira ba’da isya, saya menjadi peserta terakhir yang di-sweeping oleh Hanif, hahaha. Untungnya Hatta yang menyusul kami belakangan sehabis pulang sekolah membawa motor ke dekat jalur pulang, angkot yang direncanakan tidak ada, jadi Hatta, Soleh dan Hanif pulang ke basecamp mengambil motor untuk menjemput kami lagi dengan tambahan ayahnya Madrid. Dari pemukiman warga tempat kami menunggu menuju basecamp masih berjarak 30 menit lagi naik motor, bayangkan, bolak-balik menjemput menjadi 90 menit. Belum lagi jalanan berbatu khas desa, motor Salma sampai bocor di 4 titik, mengetuk rumah penambal ban yang sudah tutup akhirnya ganti ban, kemudian isi bensin motor Gina di Pertamini. Kasihan sekali mereka, terimakasih ya. Tibalah para pangeran bersepeda motor, saya cabe-cabean sama Salma dan Hatta, Ria dan Nisa cengek-cengekan sama ayahnya Madrid. Hanif, Doddy dan Soleh terong-terongan bertiga, sedangkan Gina dan Madrid menjadi paprika. Duh udah di bawah mah tiasa heureuy euy?!
Sampai di pemukiman warga, menunggu jemputan
Sebenarnya perjalanan belum selesai, karena kami masih harus pulang ke rumah masing-masing. Malam hari di tempat yang belum pernah kami kunjungi, daerah kampung pula, melewati jalanan yang tidak berlampu dan bukan pemukiman warga meskipun jalannya sudah diaspal. Kami pulang jam 22.00 WIB setelah nge-teh, ngopi dan makan gorengan kemudian mandi atau cuci-cuci muka dan kaki. Pulang naik motor kami melewati jalur yang berbeda dengan berangkat, karena keluar di dekat tol Padalarang, padahal sebelumnya kami berangkat lewat Jalan Kolonel Masturi. Dipandu oleh Madrid karena dia harus pulang ke Buah Batu karena besok masih ada acara di Pesantren Manba’ul Huda. Alhamdulillah saya sama Hanif yang bertetangga, sampai rumah kira-kira jam 23.00 WIB. Salma jam 23.30 WIB karena rumahnya paling jauh di Kopo, juga Madrid yang ke daerah Buah Batu. Gina, Ria dan Nisa pulang ke kost an dan asrama mereka di daerah Gunung Batu, sedangkan Doddy di rumah kost di daerah Perumahan Budi Indah, masih di Cimahi. Semua selamat aman dan sentosa. Alhamdulillah.