Thursday, 31 March 2016

Horcrux

Apa menurutmu fungsi lain dari pasangan hidup? Selain tempat berbagi kasih, belahan jiwa (yep! Horcrux), usaha bersama membangun rumah tangga, rekan dalam membina generasi penerus bangsa dan bla bla bla?

Ini versi saya, pernah saya singgung sih, list nya baru sedikit. Kapan-kapan akan ditambahkan lagi kalo kabetrik.

1. Pasangan hidup sebagai pemberat di motor, biar kalo ada gujligan nggak loncat teuing.

2. Pasangan hidup sebagai perpanjangan tangan. Kalo baca di kasur sampe ngantuk dan mager, gunakan pasangan hidup anda sebagai perpanjangan tangan untuk mematikan lampu.

3. Pasangan hidup sebagai pribadi untuk berbagi gigitan nyamuk. Kalo tidur berdua gigitan nyamuknya dibagi dua. Resiko terkena malaria akan dibagi dua (nggak gitu juga sih).


It is unusual for me, fancy younger man..

Monday, 28 March 2016

Makna Yang Berlebihan

Kadang-kadang kita merasa berlebihan saat memaknai sesuatu.

Tapi bukankah menyenangkan saat kau memeluk kereta uap usang jaman belanda dan merasakan orang-orang bule berjas rapi, berterbangan membawa koper, berlalu lalang di sekelilingmu, seakan kau adalah masinis pribumi kebanggaan yang akan mengantar mereka memperbudak anak istrimu, menduduki tanah bangsa.

Bukankah menenangkan ketika kamu menyapa seluruh tumbuhan dan bersalaman dengan ilalang-ilalang tinggi di bukit. Seakan kau mendengarkan isak tangis dan cerita mereka tentang dua orang bapak berkumis yang datang tadi pagi dan membicarakan pembangunan villa diatas akar-akar mereka. bukan tentang mereka, ilalang itu berkata. “keluarga kami sudah turun temurun disini, kami tidak khawatir akan punah. Tapi anak-anak kampung dibawah yang sering bermain ke sini akan terkena longsor dan banjir. Kasihan mereka.” paparnya, sambil miring-miring ke kanan tertiup angin.

Lalu saat elang menyapamu, dia berputar di atasmu “yello!” katanya. Kau hanya diam saja karena tidak mengerti bahasa yang dia gunakan. Mungkin dia elang bule dari pulau barbados pikirmu. Lalu memicingkan mata karena silau. Tapi perasaanmu bilang “waw!”

Saat kau isap aroma kehidupan di sekitarmu kau akan tahu bahwa kau tidak sendirian.

“I know every rocks and trees and creatures has a life, has a spirit, has a name.” -pocahontas-

sudah pernah diposting di facebook

2 November 2010, 08.15
Oh hey titik! Happy birthday!

Sunday, 27 March 2016

Gunung Burangrang

15:37 Bilih bade ngiring  
15:37 Pp

Kata si Doddy, ujug-ujug sambil ngirim e-poster ajakan ke Gunung Burangrang tanggal 26 Maret 2016 bareng sama BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) *Pp = pulang pergi. Yang tentunya saya iyakan walaupun saya bukan pengurus bahkan relawan BSMI. Mereka biasa mengadakan acara seperti ini dengan tujuan untuk melatih psikis dan fisik ke-relawanan mereka. Muslim yang kuat lebih disukai Allah daripada muslim yang lemah bukan? Itu kata hadits. 

Sebenarnya Gunung Burangrang sangat dekat dengan rumah saya, terlihat jelas menjulang dari atap rumah jika hari cerah. Naik motor ke kaki gunungnya saja hanya memakan waktu satu jam. Menurut sejarahnya, Gunung Burangrang merupakan sisa hasil letusan Gunung Sunda pada Zaman Prasejarah. Gunung yang kalo kata wikipedia tingginya 2.064 mdpl, sebenarnya hanyalah 2.050 mdpl menurut tugu yang berdiri di puncaknya. Jadi harus percaya yang mana? Jangan percaya siapa-siapa, ukurlah sendiri.

Kami berkumpul dan memulai trekking dari rumah salah seorang relawan BSMI bernama Madrid (Keren kan namanya? Apakah dia turunan Spanyol? Boro-boro, itu singkatan dari Muhammad Ridwan :D). Lokasi rumahnya berada di kaki Gunung Burangrang tepatnya di Kampung Pies, Desa Cipada, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan perkampungan yang sangat nyaman dan jauh dari hingar bingar perkotaan. Kami dijamu dengan sangat baik (semoga dibalas berkali-kali lipat oleh Allah SWT) diberi sarapan, dibawakan bekal dan diperbolehkan mandi-mandi dan bersih-bersih setelah turun gunung, bahkan dibikinkan air panas untuk mandi 

Sebenarnya jalur pendakian menuju Gunung Burangrang ada banyak, tapi karena kami naik bersama penduduk asli sana jadi kami tidak melewati pos resmi di daerah Komando (sebutan untuk check point pendakian ke Gunung Burangrang) melainkan lewat jalur Situ Cipada (Danau Cipada). Enaknya lewat jalur ini adalah kita tidak harus melapor dan bebas untuk masuk kawasan karena terkadang jalur Komando ini ditutup jika ada latihan TNI. Jalur ini melewati perkebunan teh milik PT Perkebunan Negara, sawah dan perkebunan milik warga sekitar.

 Melewati kebun teh milik PT Perkebunan Negara

Tim kami kali ini terdiri dari Kang Soleh, yaitu bujangan kelas 3 SMA yang berperan sebagai guide yang mungkin sudah berpuluh kali naik turun gunung ini. Kang Hatta, yang seumur dengan Kang Soleh yang juga berperan sebagai guide, tapi datangnya menyusul karena harus sekolah dulu! Luar biasa! Pulang sekolah langsung naik gunung, dan dia adalah adik dari Kang Madrid tapi tidak mirip. Kang Madrid, sebagai tuan rumah yang baik hati dan tidak sombong, seorang guru MTS di pesantren Manba’ul Huda di daerah Buah Batu, juga seorang relawan BSMI. Kang Doddy, yah si Doddy lah anak analis tea, orang Sumedang yang kerja di Biofarma. Kang Hanif, engineering designer jebolan POLMAN yang kerja di Buah Batu dan ternyata tetangga beda satu blok di Cipageran. Teh Salma, teman SMA yang keturunan Arab, anak analis yang sekarang kerja di RSP UNPAD bareng si Inas, rupanya si Salma aslinya orang Palembang. Teh Anisa, relawan BSMI, dan sekarang masih kuliah di D-4 Gizi. Teh Ria dan Teh Gina yang selalu bersama tidak boleh dipisahkan karena perbedaan karakter mereka akhirnya saling melengkapi, relawan BSMI yang masih kuliah di jurusan analis kesehatan dan ngekost dan ngasrama di daerah Gunung Batu.

Istrirahat dulu jeng

Saya lagi malas menulis “how to get there” karena ya males weh, ini juga masih nyareri awak (sakit-sakit badan). Pokoknya setelah kami melewati perkebunan teh, kami melewati perkebunan pinus yang getahnya disadap, bertemu sawah dan kebun warga, bertemu sungai yang sangat jernih untuk kami cuci muka dan mengisi tempat air minum, sempat membuat jatuh seorang pesepeda gunung karena stangnya menyenggol tas Teh Salma, memetik jambu batu milik masyarakat yang sangat enak sambil istirahat, dan bertemu bunglon yang diam saja di pinggir jalan setapak. Ah itu baru sedikit gambaran yang jika diceritakan secara detail mungkin bisa jadi buku 30 halaman.
 
Sebenarnya di jadwal perjalanan yang direncanakan, kami berkumpul jam 07.00 di rumah Kang Madrid, kemudian mendaki selama 4 jam (karena orang sana yang sudah terbiasa, dalam 2 jam saja sudah sampai puncak). Rencananya kami akan sudah berada di basecamp lagi jam 16.00 WIB. Logistik sederhana saja, bekal makanan, obat-obatan pribadi, jas hujan, senter dan jaket. Sebenarnya saya agak malas membawa jas hujan, senter dan jaket, tapi itu nanti diceritakan di paragraf selanjutnya.

Rupanya tidak semudah itu mencapai rumah Kang Madrid, kami baru sampai di rumah Kang Madrid jam 08.00 kemudian disuguhkan sarapan dulu sehingga kami baru berangkat jam 09.00 WIB. Memang terlalu siang untuk naik gunung, tapi karena kami ditemani orang yang sudah hapal betul kami menjadi merasa tenang. Jalur Situ Cipada ini rupanya memutari gunung, selama beberapa jam kami melalui jalanan yang kebanyakan datar atau malah menurun, jika menanjak pun hanya menanjak sedikit. Pendakian yang sesungguhnya baru dimulai saat adzan dzuhur sudah berkumandang.

Hutan pinus yang diambil getahnya

Jujur saja, sebelum saya menyelesaikan umur 25 tahun di pertengahan Maret kemarin rasanya saya adalah orang yang berstamina bagus. Naik Gunung Gede dan Cikuray dengan carrier berkilo-kilo saya adalah termasuk yang tercepat bahkan dibanding laki-laki. Disaat yang lain sedang istirahat kelelahan saya masih bisa berjalan naik dan beristirahat tidak sebanyak mereka. Tapi kemarin ini lain, saya merasa sangat kelelahan, saya dan Salma menjadi pendaki yang terakhir (memang faktor U kali ya :D) dan saya pun merasa mental saya sangat jelek saat itu, bahkan saya sempat mau menyerah saja padahal kami hanya membawa ransel! Satu ransel! Aduh apalah kami ini tanpa para lelaki perkasa ini, mereka membantu membawakan tas Gina, membawakan jaket saya dan Salma, pun menunggui sampai tenaga kami pulih. Padahal saya biasanya gengsi kalau merepotkan orang seperti itu, huh.

Jalur pendakian kami sepertinya sudah lama tidak dilewati, kami banyak membabat tanaman yang lebat melintangi jalan setapak, pertanda sudah lama tidak dilewati orang. Merangkak merunduk dibawah terowongan semak, melipir ke kiri atau ke kanan karena jurang, mendaki vertikal 70-80 derajat, lengkap dengan jalanan yang licin karena hujan dan gerimis. Kami sempat berhenti sholat di tiga perempat perjalanan, saat itu hujan, saya tidak sholat dan bertugas memfoto. Perjalanan kami lanjutkan hingga kira-kira sampai di ketinggian 1900 mdpl kami putuskan untuk berhenti, waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Kemudian kami makan, istirahat sambil bercanda bercerita dan berfoto. Kami harus memulihkan tenaga untuk perjalanan pulang. 6 jam perjalanan, Ini baru mendaki.

  
Jambu halal 1

 
 Jambu halal 2

16.30 WIB kami turun, sempat khawatir kami masih di hutan saat gelap datang. Nah rupanya ini pelajaran berharga bagi saya yang sempat berpikir untuk tidak jadi membawa senter, jaket dan jas hujan. Rupanya hal yang serupa pun dialami Salma dan Ria, mereka sempat berpikir untuk tidak membawa jaket dan jas hujan. Sematang apa pun rencana kamu, gunung adalah gunung, hormati dia dengan tidak meremehkan dan menebak-nebak apa yang akan terjadi. Peralatan standar safety adalah hal yang utama, meskipun itinerary mengatakan kita sudah akan sampai basecamp jam empat sore. Jas hujan dan jaket yang diremehkan karena merasa ini hanya 2.050 mdpl, kami akan tahan dengan suhu dinginnya. Begitu pula senter, karena merasa sore hari sudah sampai kaki gunung. Padahal bisa saja kami tambah merepotkan berkali-kali lipat jika tidak membawanya.

Perjalanan turun tidak selama perjalanan naik, memang seperti itu, tapi tepatnya karena kami melewati jalur yang berbeda dan tidak kembali melewati perkebunan teh melainkan memotong jalur hingga bersimpangan dengan jalan raya dan akan menyewa angkot. Menuruni gunung lebih menyenangkan karena kami banyak terpeleset namun tidak sampai terluka, aku tepatnya sering sekali terpeleset, hahaha. Di tempat kami merangkak di bawah semak kami meluncur dengan pantat, mirip seperti wahana mainan anak-anak, baju dan jaket tidak ada yang selamat dari lumpur. Celana, rok dan sepatu? Tidak usah ditanya lagi. Kabut sangat pekat ketika maghrib datang, jarak pandang hanya satu meter jelasnya. Alhamdulillah sekali kami ditemani Soleh dan Hatta yang sangat hapal jalan, tidak terbayang jika tanpa keduanya.

Sampailah kami di pemukiman warga kira-kira ba’da isya, saya menjadi peserta terakhir yang di-sweeping oleh Hanif, hahaha. Untungnya Hatta yang menyusul kami belakangan sehabis pulang sekolah membawa motor ke dekat jalur pulang, angkot yang direncanakan tidak ada, jadi Hatta, Soleh dan Hanif pulang ke basecamp mengambil motor untuk menjemput kami lagi dengan tambahan ayahnya Madrid. Dari pemukiman warga tempat kami menunggu menuju basecamp masih berjarak 30 menit lagi naik motor, bayangkan, bolak-balik menjemput menjadi 90 menit. Belum lagi jalanan berbatu khas desa, motor Salma sampai bocor di 4 titik, mengetuk rumah penambal ban yang sudah tutup akhirnya ganti ban, kemudian isi bensin motor Gina di Pertamini. Kasihan sekali mereka, terimakasih ya. Tibalah para pangeran bersepeda motor, saya cabe-cabean sama Salma dan Hatta, Ria dan Nisa cengek-cengekan sama ayahnya Madrid. Hanif, Doddy dan Soleh terong-terongan bertiga, sedangkan Gina dan Madrid menjadi paprika. Duh udah di bawah mah tiasa heureuy euy?!

Sampai di pemukiman warga, menunggu jemputan

Sebenarnya perjalanan belum selesai, karena kami masih harus pulang ke rumah masing-masing. Malam hari di tempat yang belum pernah kami kunjungi, daerah kampung pula, melewati jalanan yang tidak berlampu dan bukan pemukiman warga meskipun jalannya sudah diaspal. Kami pulang jam 22.00 WIB setelah nge-teh, ngopi dan makan gorengan kemudian mandi atau cuci-cuci muka dan kaki. Pulang naik motor kami melewati jalur yang berbeda dengan berangkat, karena keluar di dekat tol Padalarang, padahal sebelumnya kami berangkat lewat Jalan Kolonel Masturi. Dipandu oleh Madrid karena dia harus pulang ke Buah Batu karena besok masih ada acara di Pesantren Manba’ul Huda. Alhamdulillah saya sama Hanif yang bertetangga, sampai rumah kira-kira jam 23.00 WIB. Salma jam 23.30 WIB karena rumahnya paling jauh di Kopo, juga Madrid yang ke daerah Buah Batu. Gina, Ria dan Nisa pulang ke kost an dan asrama mereka di daerah Gunung Batu, sedangkan Doddy di rumah kost di daerah Perumahan Budi Indah, masih di Cimahi. Semua selamat aman dan sentosa. Alhamdulillah.

Friday, 18 March 2016

Sanghyang Heuleut

04:37 Teh udah bangun? 
04:37 Nguuuunnnn (emot toa ada empat)

Si Hana pagi-pagi udah bangunin aja lewat whatsapp, padahal saya udah bangun dari setengah jam yang lalu. Hari itu saya tanggal 12 Maret 2016 mau pergi ke Sanghyang Heuleut, sebuah Laguna yang lagi ngehits di kancah per-piknik-an Bandung Raya. Sanghyang Heuleut berlokasi di sekitaran PLTA Saguling, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Yah global position nya saya kurang tau lah, waktu kesana nggak bawa GPS, emangnya mau penelitian.

 (spoiler) Sarapan dulu sebelum berenang!

Hmm, saya kesana bertiga aja dari daerah Cimahi-Padalarang. Saya, Hana dan Abangnya Hana (Bang Han). Sebelumnya pas malam habis googling-googling dan berkunjung ke beberapa blog orang, kami akhirnya mempersiapkan rencana perjalanan sebagai berikut :

Jadwal 05.30 – 07.00 perjalanan naik motor sampai PLTA 07.00 – 10.00 trekking ke Sanghyang Heuleut (plus sarapan) 10.00 – 13.00 main-main lucu ( plus makan siang dan sholat) 13.00 – 16.00 balik ke PLTA (plus sholat) 16.00 – 18.00 pulang ke rumah masing-masing

Logistik Individu : Air minum 1,5 liter, sendok garpu, mie dan minuman, roti atau makanan jadi (jaga-jaga kalo ngga bisa masak), baju ganti, sendal atau sepatu gunung, jas hujan, gelas. Kelompok : Motor, kompor, gas, panci, keresek sampah.

Kemudian berangkatlah saya dari Cipageran, Cimahi jam 05.15 menuju Permata rumahnya Hana dan Bang Han. Saya tepat sampai jam 05.30 dan menunggu sebentar kemudian kami meluncur ke PLTA Saguling jam 05.40. Yang harus kamu lakukan pertama kali untuk menemukan Sanghyang Heuleut adalah pergi ke PLTA Saguling. Sangat mudah menemukannya, pertama bisa googling dulu di googlemaps (apalah kita ini ya tanpa google) untuk gambaran arah, kemudian kamu menuju arah Padalarang di Kabupaten Bandung Barat dan sedikit bertanya-tanya arah ke orang-orang di jalan. Plang penunjuk jalan milik Dinas Perhubungan yang menuju PLTA Saguling pun sudah jelas, jadi tidak usah khawatir asalkan mata tetap awas.

Check point pertama masuk ke gapura besar melintang bertuliskan PLTA Saguling, lalu masuk terus saja ikuti jalan sampai bertemu pertigaan kamu ambil kanan, lalu di pertigaan yang kedua kamu juga ambil kanan. Jalan sampai ke sana baik-baik saja, untuk pengendara motor matic seperti saya, beraspal juga, hanya saja lumayan terdapat banyak lubang dan caries tetaplah berhati-hati tidak usah ngebut dan nikmati udara sejuknya.

kalo gambar yang ini pinjem di :
 http://www.berduakelilingindonesia.com/2015/12/curug-sanghyang-heuleut.html

 Check point kedua di pertigaan kedua tersebut terlihat ada pos satpam dan portalnya, kesitu lah kamu masuk, tidak usah minta izin atau terlihat bingung karena di dalam sana juga ada pemukiman warga jadi santai saja berlagak sebagai warga setempat atau karyawan (walaupun bertanya pada satpam pun untuk memastikan arah yang benar, tidak masalah). Keadaan jalan sama seperti tadi.

Check point ketiga adalah kantor Indonesia Power nya, kamu sudah akan mendengar aliran air deras dari PLTA dan sudah bisa melihat dua “pipa” kuning besar yang mengalirkan air ke turbin, terus saja lewati PLTA tersebut, sampai kira-kira 200 meter kamu akan melihat di sebelah kiri SUTET-SUTET dan warung-warung, disitulah kamu memarkirkan motor (5000 rupiah) dan menitipkan helm (2000 rupiah).

Sebenarnya kami tidak tahu harus parkir disitu, kami diberhentikan oleh seorang pemuda dan diberitahu bahwa jika mau ke Sanghyang Heuleut harus parkir disitu. Kami berhenti lalu pemuda tersebut mengatakan sambil tertawa bahwa kami kepagian karena ternyata kami sampai di tempat parkir jam 06.40, hanya satu jam dari Cimahi ke PLTA Saguling. Lalu pemuda tersebut yang belakangan kami tahu namanya Dimas, menawarkan diri sebagai guide dengan tarif 20 ribu per orang (uangnya masuk ke kas karang taruna). Ya mahal sih, tapi karena kami adalah pengunjung pertama, kami tidak tahu juga harus kemana, akhirnya kami ambil tawaran tersebut sambil menawar 50 ribu untuk mengantar kami bertiga, Kang Dimas setuju, hitung-hitung sedekah untuk masyarakat sekitar dan cari teman perjalanan orang situ yang bisa kami tanya-tanya tentang daerah situ.

Check point keempat untuk kamu yang kere dan tidak mau mengeluarkan uang, trekking dimulai dari tempat parkir tersebut. Di seberang tempat parkir ada portal verbooden, masuk saja, karena itu menuju dua “pipa” kuning milik PLTA, tidak ada yang jaga sih. Kamu akan berjalan merunduk-runduk di bawah “pipa” kuning sambil deg-deg an kalo tiba-tiba “pipa” nya bocor. Habis melewati “pipa” kuning kamu harus naik tangga keatas dan akan menemukan jalan setapak tanah menuju perkebunan dan sawah.

 dibawah pipa-pipa segede alaihim
Check point kelima setelah ini mudah saja sih, seperti biasa ikuti jalan setapak yang ada, ada penunjuk jalan menuju Sanghyang Poek, kalo mau berkunjung dulu boleh sih, tapi kami kemarenan tidak, kalo mau langsung lanjut, lurus dan lewati saja tidak usah belok.

Check point keenam ada jembatan bambu yang harus kamu lewati, barulah setelah itu tidak berapa lama kita akan menyusuri sungai dengan melawan arus, sungainya kecil dan tidak terlalu berbahaya sih menurut kami, padahal saat itu masih musim hujan tapi alhamdulillah saat perjalanan kami cerah. Trekking batu-batu tidak terlalu sulit dan tidak ada tanjak-menanjak atau turunan yang ekstrim. Ada beberapa kali kami menyebrang sungai dengan kedalaman selutut, jadi memakai sandal gunung pun cukup, kecuali kamu tidak keberatan menggunakan sepatu basah.

Intinya itu sih yang bisa saya ingat, da setelah itu mah yaudah weh sampe, nggak usah diceritain bagusnya mah, alamin aja sendiri lah. Kalo bekal makanan dirasa kurang, jangan khawatir disana ada tukang gorengan, pop mie, kopi-kopi, tempat ganti baju biasalah tenda-tenda, tapi jangan lupa sampahnya dibawa pulang ya. Si Kang Dimas ini juga cinta kebersihan, dia nggak suka orang-orang yang nggak ngejaga kebersihan di Sanghyang Heuleut ini, dia juga ngebersihin laguna nya dari ranting-ranting bareng sama si Fauzi anak kelas 5 SD yang berenangnya udah kaya lumba-lumba dan manjat batu udah kaya monyet. Ada Pak Andi juga yang menyewakan pelampung, berbaik hati lah sama orang situ, tidak usah tawar menawar terlalu murah, anggap saja sedekah. Inget aja kamu kalo makan di kafe harga 50 ribu untuk makan sendiri dan tidak ada penyesalan, apalagi sama sodara sendiri, harus lebih baek. Oh iya kami sampai di Sanghyang Heuleutnya jam 9 kurang, dengan istirahat 2 kali dan kecepatan yang kalo di rengking --- Noob – Student – Pro --- kami adalah student jadi kurang lebih trekking Sanghyang Heuleut adalah 1 – 2 jam jalan kaki, dan jadwal kami jadi lebih maju, lebih cepat satu jam. Selamat Belajar!!

Selamat menempuh perjalanan!


Banyak Maunya

Kadang-kadang aku membuka blog ku sendiri dan berharap ada tulisan baru, dasar bodoh. Blog sendiri ya harus kau tulis sendiri, lagipula kau pasti sudah tahu apa isi tulisannya.

Begitulah mungkin aku, banyak mau dan keinginannya, tapi tidak sadar kalau akulah yang harus melangkah untuk menggapainya, bukan orang lain.

Hari ini banyak menggunakan kalimat "dasar bodoh", huh dasar bodoh.

Hal Tersulit

Seorang manusia laki-laki pernah bertanya padaku,

"Menurutmu apa hal tersulit bagi seorang laki-laki?"

Tidak kuingat persis bagaimana redaksi kalimatnya, namun kurang lebih itulah pertanyaanya. Aku sendiri lupa apakah sebelum kalimat ini kami sedang membicarakan tentang sesuatu ataukah tiba-tiba tanpa intro dan kata pengantar, manusia laki-laki ini bertanya padaku lewat sebuah aplikasi pesan online.

Sejujurnya aku sama sekali tidak terpikir jawaban macam apa yang manusia laki-laki ini inginkan. Agak gambling akupun mengirim pesan kepada manusia laki-laki yang lain, mempertanyakan hal yang ditanyakan padaku. Karena, mana kutahu? Aku bukan laki-laki kan? Jika manusia laki-laki ditanya tentang apa yang tersulit bagi manusia perempuan, apakah mereka juga akan tahu?

"Membuat komitmen"

Jawab temanku manusia laki-laki yang lain, terima kasih atas bocorannya. Kemudian kujawab pertanyaan manusia laki-laki seakan jawaban itu berasal dari buah pikiranku sendiri.

"Tepat sekali" kata manusia laki-laki puas.

"Hm, kenapa?" Seperti yang selalu aku tanyakan kepada manusia laki-laki seakan dia adalah buku ensiklopedia berkacamata. Bahkan dalam mimpinya aku memang selalu banyak bertanya dan dia merasa kerepotan di dalam mimpinya itu.

Percakapan ini terjadi di masa-masa aku menyusun skripsi. Aku sama sekali tidak ingat manusia laki-laki menjawab apa, yang bisa kuingat adalah argumenku sendiri terhadap jawabannya.

"Kurasa, komitmen dalam pernikahan dibangun dan ditopang oleh dua orang, suami dan istri, tentu saja jika sang laki-laki merasa membuat komitmen adalah hal yang sulit itu karena dia tidak sadar bahwa perempuan pun berbagi beban komitmen yang sama. Apakah laki-laki pikir menafkahi orang lain selain dirinya dan bertanggung jawab terhadap kehidupan selain dirinya, lebih sulit daripada perempuan yang harus menelan ego demi keinginan laki-laki, atau perempuan yang bertanggung jawab untuk lebih mendahulukan kebahagiaan laki-laki ketimbang dirinya sendiri bukanlah sebuah komitmen yang sama berat? Kurasa laki-laki yang berpikir seperti itu adalah karena kebodohan dan egoismenya yang tidak melihat bahwa komitmen pernikahan ditanggung bersama. Berapa banyak perempuan yang rela kembali bekerja setelah suaminya terkena PHK? Bukankah itu komitmen untuk mempertahankan rumah tangga? Komitmen macam apa yang kamu maksud?"

Biasanya dia tidak mau kalah, tapi kali ini dia diam dan hanya menjawab
"Jawabanmu bagus.."

Dalam hatiku aku berbangga diri, dasar bodoh, memangnya keinginan perempuan untuk menikah hanyalah seperti pikiran kebanyakan orang? Sebagai jalan keluar dari permasalahan ekonomi atau permasalahan hidup yang lain? Menikah supaya ada yang menafkahi, naif sekali. Pernikahan bukanlah jalan keluar, tapi setidaknya itulah gerbang petualangan baru yang sangat menggiurkan untuk segera dimasuki. Memang sih sepertinya dalam benak wanita, banyak sekali hal-hal indah yang terbayang setelah menikah, aku tidak menyangkal, mungkin itu karena logikanya tertutup kabut wangi dari taman bunga yang bermekaran di hatinya. But i am (too) fully aware that marriage can even attract new problems everyday, but then, berdua lebih enak, kan?

Jadi, apa hal yang tersulit bagi manusia perempuan?