Yello!
Langsung saja, berdasarkan
penelitian yang terakhir saya ikuti, saya terlibat dalam studi kualitatif
berkaitan dengan anemia pada remaja putri. Kalo kamu sudah membaca tulisan saya
sebelumnya, disitu sudah dijelaskan latar belakang studi tersebut. Kenapa
studinya dilakukan di Kota Cimahi dan Purwakarta, serta apa saja yang saya dan
tim lakukan pada penelitian tersebut.
Sekarang saya akan membahas sedikit
tentang anemia itu sendiri. Pembahasan anemianya tidak akan terlalu dalam
membahas penyebab, gejala, dan akibat, yang secara mudah bisa kamu googling
sendiri. Tapi saya lebih ke anjuran dan program apa yang sedang pemerintah
gulirkan untuk memberantas anemia pada remaja putri ini.
Well, pada dasarnya anemia itu
penyakit (penyakit lho!) yang bisa terjadi baik pada manusia laki-laki ataupun
manusia perempuan. Anemia bisa disebabkan karena kurangnya zat besi dalam
darah, kurangnya vitamin B12 dalam darah, lalu kurangnya asam folat di dalam
darah, terus bisa jadi karena menderita penyakit infeksi, gara-gara kelainan
genetik, ataupun pendarahan. TAPI 40% anemia yang terjadi di negara-negara
berkembang, itu disebabkan karena kurangnya zat besi dalam darah also known as ‘Iron Deficiency Anemia’ atau
anemia gizi besi kalo dalam bahasa indonesia.
Why? Whyyy? Kenapa negara
berkembang? Kenapa harus karena kekurangan zat besi?? Emangnya zat besi itu
asalnya dari mana??
Kenapa negara berkembang? Yah, Indonesia adalah negara berkembang, salah satu karakteristik negara
berkembang yaitu masyarakatnya punya kualitas hidup yang rendah. Contohnya? Tingkat pendidikan
masyarakat yang rendah, yang somehow berkaitan dengan kurangnya kesadaran akan
hidup bersih alias jorok terutama di pedesaan yang mostly banyak tanah – si jorok ini akan menggiring kita ke
penyakit-penyakit infeksi semacem cacingan. Terus apa hubungannya cacingan sama
anemia gizi besi? You know cacing tambang? Tajir kali ya itu cacing kerja di
pertambangan. Bukan. Cacing tambang itu kerjaannya nempel di usus trus minumin
darah kamu, ya kurang lebih gara-gara itu zat besi yang ada didalam darah juga
kesedot cacing trus malah kebuang bareng eek kamu. Infeksi lain contohnya
adalah TBC dan Malaria.
Nah sekarang apa yang kamu tau
tentang zat besi? Kamu harus makan apa supaya dapet zat besi yang banyak? Ada
dua macem zat besi yang biasa kita dapet dari makanan, yaitu zat besi jenis heme dan non-heme. Nah zat besi jenis heme
ini adalah zat besi yang gampang diserap sama tubuh (diserap 25-35%),
karena strukturnya. Zat besi heme ditemukan
pada makanan yang bersumber dari hewan, kaya DAGING, IKAN, TELUR dan HATI.
Sedangkan zat besi non heme berada
dalam makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, perlu waktu dan proses yang
lebih lama untuk menyerapnya (diserap hanya 1-5%). Belum lagi konsumsi makanan
atau minuman yang bisa menghambat penyerapan zat besi.
Tuh dari penjelasan di atas
ketemu juga kenapa anemia gizi besi lebih banyak terjadi di negara berkembang.
Sumber-sumber zat besi yang mudah diserap, nggak terjangkau sama masyarakat
dengan tingkat ekonomi rendah. Bukan juga melulu karena faktor ekonomi sih,
jaman sekarang banyak anggapan bahwa banyak makan sayur itu lebih sehat
daripada makan daging-dagingan. Anggapan begitu nggak salah kalo yang bilang
adalah orang tua berusia 49 tahun ke atas, tapi kalo remaja putri yang bilang
begini, yah wassalam. Lagian prinsipnya, nggak ada makanan yang lebih baik,
semuanya harus saling menyeimbangkan.
Terus gimana tindakan
pemerintah untuk memberantas anemia zat gizi besi ini? Terutama pada remaja
putri yang lebih beresiko dibandingkan remaja putra – karena menstruasi. Karena
ikut dalam studi ini, saya juga baru tau kalo sejak 2015 pemerintah atau
Kementrian Kesehatan menggulirkan program pemberian suplemen Tablet Tambah
Darah (TTD program) untuk remaja putri sebagai upaya pencegahan anemia.
Puskesmas setempat akan bekerja sama dengan sekolah-sekolah dalam wilayah
kerjanya, untuk memberikan TTD gratis kepada remaja putri. Tapi belum semua
kota menjalankan program tersebut, yah tergantung kesiapan puskesmasnya, di
Cimahi sudah ada beberapa daerah yang menjalankan program tersebut. Terus apa
kamu tau, sejak tahun 2000 tepung terigu mulai difortifikasi dengan zat besi?
Lalu upaya pemerintah lainnya yang utama adalah tentu saja dengan mengatasi
penyebab anemianya – mengurangi angka TBC, malaria, cacingan dan lain-lain.
Anjuran Kemenkes RI, konsumsi TTD
untuk perempuan usia subur yang tidak hamil :
- Minum 1 tablet TTD selama 10 hari
dimulai pada saat menstruasi, dan 1 tablet per minggu dalam 1 bulan, diminum rutin
selama 4 bulan berturut-turut saja.
- Jadi dalam 1 tahun, TTD yang anda
konsumsi adalah sebanyak 52 tablet, yaitu 13 tablet per bulan x 4 bulan per
tahun = 52 tablet per tahun
Baru tau? Saya juga.. -__-
Pemberian TTD secara rutin selama jangka waktu tertentu bertujuan untuk
meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat, dan perlu dilanjutkan untuk
meningkatkan cadangan zat besi dalam tubuh. Kandungan TTD program harusnya
setara dengan 60 miligram besi elemental dan 400 microgram asam folat. Dalam Tabel
Kecukupan Gizi 2013 yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI, kecukupan zat gizi
besi untuk perempuan usia subur hanya berkisar antara 20-40 mg per hari. Itu
sudah termasuk angka kecukupan bagi ibu hamil dan ibu menyusui. Lalu kenapa TTD
program kandungannya sampai 60 miligram besi elemental? Menurut saya jawabannya
kembali lagi kepada pola makan kita. Angka dalam Tabel Kecukupan Gizi adalah
angka yang harus dicapai setiap hari, artinya setiap hari kita harus
mengkonsumsi zat besi sebanyak 20-40 miligram per hari tergantung usia dan
keadaan hamil atau menyusui. Sedangkan penduduk Indonesia jarang sekali makan
zat besi sebanyak itu dalam satu hari. Suplementasi sebenarnya tidak diperlukan
apabila zat besi dari makanan sehari-hari sudah mencukupi.
Tantangannya adalah, tau nggak
kita berapa banyak makanan yang harus dimakan untuk mencapai kebutuhan zat besi
tersebut setiap hari?? Apa kita harus makan 100 gram daging setiap hari?? Terus
perlu nggak perempuan sehat dan nggak anemia untuk minum suplemen TTD tadi? Bahaya
nggak? Bisa minta gratis nggak ke Puskesmas? Kita bahas nanti lagi ya! Ciao!
Sumber :
Kementrian Kesehatan RI :
Buku Pedoman
Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah, 2015
Rekomendasi WHO :
Tabel Angka Kecukupan Gizi 2013 :
http://gizi.depkes.go.id/download/Kebijakan%20Gizi/Tabel%20AKG.pdf