Tuesday, 17 October 2017

#87 Online Vs Offline

Beberapa hal yang mengganjal menurut saya :

1. Kenapa sih para pengemudi transportasi offline, harus protes sama keberadaan si transportasi online?

2. ‎Beredarnya petisi, yang katanya : Aku ingin bebas memilih antara kamu atau dia (uhuy!)

Coba neneng bahas deh ya, karena beberapa hari yang lalu anak2 gaul Happy Friends ❤ dan kakak gue juga bahas ini. Terimakasih untuk inspirasinya ~
.
.
.
.
Case #1
Kenapa sih para pengemudi transportasi offline, harus protes sama keberadaan si transportasi online?

I mean, yeah it was obvious kalo transportasi online ini menjadi saingan berat mereka. Tapi saya rasa, kalaupun transportasi online ini ngga ada di muka bumi Indonesia? I guarantee, kalo kita-kita konsumen lebih milih pake kendaraan sendiri daripada balik ke transportasi publik.

Because, look at us, we are in a third world country where the value of safety, comfortability, interest, passion etc are far below the value of making/saving more money. We dont give a damn about angkot/bis nyaman dan aman, kita lebih milih naik motor kemana-mana, karena MURAH. Semacem
penambang belerang di Kawah Ijen, yang penting dapet duit, urusan mati jatuh terhempas bisa diatur nanti.

Di TA kakak gue, katanya angkot udah mulai ditinggalin semenjak kenaikan BBM 2008. Komuter (penglaju ulang-alik) pada beralih ke kendaraan pribadi (motor). So, menurut gue ada atau nggaknya si transportasi online ini sebenernya bukan musuh utama si transportasi offline (gampangnya kita sebut aja Angkot).

"Every man for himself" -- ya gimana lagi, di tengah-tengah kehidupan yang serba pas-pas an dengan gaji karyawan -- adanya kebutuhan makan di Burger King, Buku sekolah anak, pergi ke Jungle Land, lipstik Wardah, pensil alis Dragon Ball , dan what so called "travelling" : semua orang pengen melakukan efisiensi keuangan. Nggak bisa mengandalkan hati nurani aja untuk kesadaran 'kembali ke transportasi publik'. Dan rakyat memang pintar memanfaatkan kelemahan pemerintah yang tidak (belum?) mengatur jumlah kepemilikan kendaraan pribadi.

So, mamang angkot yang protes sama keberadaan ojol dan angkol yang bagi banyak orang (termasuk neneng) adalah oase di tengah gurun Gobi, menurut gue agak2 kurang tepat. Mendingan juga protes sama tidak dibatasinya kepemilikan kendaraan pribadi.
.
.
.
.
Case #2
Beredarnya petisi, yang katanya : konsumen ingin bebas memilih antara transportasi online atau offline

OH, LOOK HOW SELFISH WE ARE :)

Ada yang benci sekali dengan angkot, karena pengalaman yang sering berakhir buruk dengan oknum pengemudinya. Ada juga anak-anak sekolah tanpa KTP dan SIM yang bergantung pada angkot untuk pergi ke sekolah, belum lagi nenek2 buta yang mau pergi memijat ibu2 yang keseleo.

Tetapi dalam tatanan masyarakat secara keseluruhan, tidak semua bisa disandarkan pada selera pribadi. Tidak sesederhana "kumaha aing weh". Bisa dianalogikan dengan : Jika LondoMaret, BetaMart dan Mart2 lain menjamur dan tidak terkontrol jumlah serta keberadaannya, bukankah akan mematikan perputaran ekonomi warung2 tetanggamu?

Kata teman kami : jadilah penumpang yang adil sejak dalam pikiran.

Daripada ikut berperang melawan saudara sendiri (angkot), lebih baik menandatangani petisi yang mendukung (mendesak?) pemerintah untuk segera melakukan reformasi/revolusi sistem transportasi publik dan pribadi. Bukankah mamang angkot adalah (juga) rakyat yang sama seperti kita? Jangan mau diadu dengan saudara sendiri, apalagi dimadu dengan teman sendiri.

***

Btw, kenapa sih transportasi d kota2 besar jadi masalah? Beda dengan kota2 kecil, mata pencaharian mereka ada di sekitar lingkungan rumah mereka, jadi nggak perlu repot mikirin naik apa kalo mau kerja, tinggal naik sepeda, jalan kaki atau naik kerbau sambil niup seruling bambu. Sedangkan kota-kota besar punya daerah khusus untuk perkantoran atau daerah lapangan pekerjaan yang notabene jauh dari rumah. Jadi, moda transportasi adalah hal ruwet yang harus diperbincangkan.

Okeh, jangan marah ya yang baca, namanya juga pendapat. Boleh salah, boleh benar. Apalagi saya mah anak kesehatan, bisanya sotoy, bukan ahli tata kota. Cheerio!

Irs
17/10/17
19.40 WIB

Sunday, 1 October 2017

#82 Perihal

Tentang inisiatif,

Gue mulai berpikir bahwa there is no such thing as inisiatif
Inisiatif adalah kepekaan yang dibiasakan sedari kecil
And people raised with such a different kind of parenting

Kalo lo mau sesuatu, komunikasikan
Bukan dengan cara diam lalu menunggu orang lain sadar
That s not gonna happen or work
And mostly end with dissapointment
***

Tentang cinta,

Segala sesuatu yang kita cintai selain diri-Nya akan menjadi ujian, sampai harapan yang digantungkan kepada selain-Nya dikembalikan hanya kepada Allah semata.
***

Tentang ilmu,

Yang beriman dan berilmu,
Ilmu lalu amal
Robbi zidni 'ilman warzuqni fahman

Sekolah lagi memang menarik,
Tapi saya belom dapet noble motivation, atau good deeds untuk sekolah lagi
Merely a thought "that could be fun"
***

Tentang pertentangan,

Ketika dirasa hati dan logika tengah bertikai,
Damaikan dengan sujud padaNya
***

Cheerio!
0110
2017