Friday, 29 April 2016

Penelitian Kualitatif, FGD dan Anemia

Beberapa waktu yang lalu saya ikut ambil bagian dalam sebuah penelitian mengenai zat besi dan asam folat. Judul penelitiannya tepatnya "Survei Dasar Kualitatif : Perbaikan Program Suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) Untuk Anak Remaja Usia Sekolah di Provinsi Jawa Barat". Yep ini pertama kalinya saya ambil bagian di penelitian kualitatif! Hoorray!! Ada banyak sekali pelajaran yang saya ambil dari penelitian ini, khususnya pengetahuan tentang teknik pengambilan data kualitatif itu sendiri.

Penelitian kualitatif kami dilakukan dengan dua metode : InDepth Interview (IDI) atau wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD). Saya hanya ingin membahas FGD, karena di metode inilah saya menemukan tantangan yang lebih besar. Secara umum pelaksanaan FGD lebih mudah dibandingkan dengan penelitian kuantitatif menggunakan kuesioner. Hemat waktu karena responden berbentuk kelompok dan jumlah kelompok biasanya berjumlah sedikit. Tapi itu karena memang beda tujuan antara studi kualitatif dengan kuantitatif.

InDepth Interview guru mata pelajaran biologi di MTsN Sukasari, Cimahi

Kesulitannya FGD?! banyak (wehehe..) buat saya yang noob banget di kualitatif suka keder sendiri. Pertama, kalo respondennya semua aktif ngomong, haduh, responden yang susah berhenti ngomongnya. Biasanya kasus gini terjadi di Ibu-Ibu atau Bapak-Bapak yang berpendidikan tinggi. Tapi enggak apa-apa sih, berhentiin omongan responden lebih gampang daripada nyuruh-nyuruh responden untuk ngomong --> nah ini termasuk di kesulitan yang kedua. Membuat responden bicara itu susah, apalagi kalo responden merasa lebih inferior dibanding kita, padahal kalo aja mereka tau, bahwa mereka adalah "sumber ilmu" para peneliti. Kadang-kadang ketemu responden tipe kedua ini di remaja-remaja perempuan yang masih SMP atau Ibu-Ibu grup petani yang pendidikannya hanya lulusan SD.

Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk melihat dinamika sebuah kelompok terhadap suatu masalah. Responden dalam kelompok tersebut haruslah sama atau homogen. Misalnya peneliti ingin mengetahui pendapat atau sikap Ibu-Ibu hamil berusia 4 bulan ke bawah terhadap suplemen tambah darah. Nah kemudian dilakukan lah FGD, dalam FGD tersebut dimungkinkan akan terjadi diskusi ataupun saling menyanggah di antara responden. Kita sebagai peneliti dapat bertindak sebagai moderator yang bertugas mengarahkan diskusi agar semua berbicara dan tidak ada yang terlalu mendominasi pembicaraan, juga agar diskusi tetap berada dalam topik. Peneliti juga dapat menjadi notulen, notulen dapat mengingatkan moderator apabila terdapat pertanyaan yang belum terjawab atau masih menggantung dan kurang diperdalam. Intinya sih (menurut saya) tujuan FGD ini salah satunya ingin memunculkan alasan-alasan di luar teori dan kebiasaan masyarakat atau kelompok secara umum. Misalnya begini:

Bersama kelompok FGD remaja putri unyu-unyu MTsN Sukasari, Cimahi



Peneliti mempunyai sebuah pertanyaan yang jawabannya ingin digali dari sebuah kelompok remaja putri usia SMP "Apa saja hal-hal yang menjadi penyebab dari anemia?". Kemudian muncul jawaban dari remaja-remaja putri dalam kelompok tersebut. "kurang darah", "kurang makan-makanan yang mengandung zat besi", "kurang berolahraga", "cacingan" dan lain-lain. Mereka menyebutkan hal-hal yang biasa, tidak semua jawaban benar, dan peneliti pun tidak boleh mengkoreksi pendapat mereka. Kemudian salah satu peserta menjawab "karena sering menonton televisi" (misalnya loh, aslinya sih nggak ada yang jawab begini). Nah jawaban seperti inilah yang membuat peneliti semangat! kan aneh banget kan, apa hubungannya? jawaban seperti inilah yang harus benar-benar digali, siapa tahu ada benarnya?! Bagaimana remaja bisa menjawab seperti itu? Mengapa? apa dia punya alasan tertentu sehingga menjawab seperti itu? Nah disitulah serunya, kemudian remaja lain mengiyakan atau menyanggah, terlihatlah dinamika kelompok tersebut. Seru kan?? Hahaha.

Pelajaran lain yang saya ambil dari penelitian ini adalah mengetahui latar belakang diadakannya penelitian ini. Menurut Riskesdas 2013, prevalensi anemia gizi pada kelompok usia remaja (13-49 tahun) secara nasional adalah 22,7%, prevalensi di atas 20% adalah termasuk kategori tinggi dan harus segera ditangani. Alasan ini belum cukup, saya mencoba buka website Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) untuk mencari laporan Riskesdas per provinsi, tapi tidak ketemu, tepatnya error pas buka tautan-nya. Penelitian anemia ini dilakukan di Kota Cimahi dan Kabupaten Purwakarta di Provinsi Jawa Barat. Kenapa di dua lokasi tersebut? hmm.. karena saya tidak bisa membuka tautan laporan provinsi, jadi alasannya berdasarkan ingatan saya saja : Provinsi Jawa Barat entah merupakan lokasi prevalensi anemia tertinggi atau kah hanya menjadi salah satu yang tertinggi diantara provinsi lain. Kemudian dipilih daerah di Jawa Barat dengan prevalensi anemia tertinggi, salah satunya adalah Purwakarta dan Cimahi. Karena ingin membandingkan antara masyarakat perkotaan dan perdesaan maka dianggaplah Purwakarta sebagai daerah perdesaan (rural) dan Cimahi sebagai daerah perkotaan (urban). Gitcu! Angkanya nggak dapet euy! Kurang niat (titik).

 
Jelek amat yak gambarnya, bisa dilihat di Bab : Ringkasan Hasil, dalam file "Laporan Riskesdas 2013 Final", saya cantumkan tautannya di akhir tulisan.


Lalu kenapa di judul penelitian menyebutkan tentang suplemen tambah darah?? Sebenarnya penelitian ini merupakan kerjasama antara LSM internasional Micronutrient Initiative (MI) dengan FK Universitas Indonesia (FKUI). Fokus MI ini adalah memberantas hidden hunger, you know? you dont?! ah googling sana! kalo saya jelasin semua pegel juga. Ya intinya salah satu tujuan MI adalah memberantas kekurangan zat besi dan asam folat pada kelompok yang beresiko terkena anemia, yaitu pada perempuan di negara berkembang. Kenapa anemia harus diberantas? silakan di-googling lagi. Kembali kepada "mengapa harus suplemen?", yah berdasarkan data SKMI, lagi-lagi secara nasional, disebutkan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia untuk makanan sumber zat besi dan asam folat sangatlah kurang, sehingga dibutuhkan suplemen untuk mencegah terjadinya kekurangan zat besi dan asam folat. Daging yang berwarna merah merupakan salah satu sumber zat besi dengan daya serap tinggi. Tetapi masyarakat kita masih menganggap bahwa bahan makanan sayur-sayuran lebih baik dan menyehatkan daripada daging-dagingan (karena ditakut-takuti kolesterol naik lah, darah tinggi lah, dsb). Padahal tidak ada kategori bahwa makanan tertentu lebih baik daripada makanan lain. Jika kita kembali kepada prinsip gizi maka semua makanan seharusnya saling menyeimbangkan. Nah, ketidak tahuan masyarakat itulah yang harus kita semua perbaiki. Still, makanan alami adalah yang terbaik jika kamu sudah paham berapa jumlah yang harus dikonsumsi.

Okeh! cerita selanjutnya masih berhubungan dengan anemia dan suplemen Tablet Tambah Darah (TTD). Ciao! Wassalam!


Laporan dan video tentang Riset Kesehatan Dasar dapat dilihat dan diunduh di tautan di bawah ini :
http://labdata.litbang.depkes.go.id/riset-badan-litbangkes/menu-riskesnas/menu-riskesdas/374-rkd-2013
https://www.youtube.com/user/riskesdas