Friday, 18 March 2016

Sanghyang Heuleut

04:37 Teh udah bangun? 
04:37 Nguuuunnnn (emot toa ada empat)

Si Hana pagi-pagi udah bangunin aja lewat whatsapp, padahal saya udah bangun dari setengah jam yang lalu. Hari itu saya tanggal 12 Maret 2016 mau pergi ke Sanghyang Heuleut, sebuah Laguna yang lagi ngehits di kancah per-piknik-an Bandung Raya. Sanghyang Heuleut berlokasi di sekitaran PLTA Saguling, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Yah global position nya saya kurang tau lah, waktu kesana nggak bawa GPS, emangnya mau penelitian.

 (spoiler) Sarapan dulu sebelum berenang!

Hmm, saya kesana bertiga aja dari daerah Cimahi-Padalarang. Saya, Hana dan Abangnya Hana (Bang Han). Sebelumnya pas malam habis googling-googling dan berkunjung ke beberapa blog orang, kami akhirnya mempersiapkan rencana perjalanan sebagai berikut :

Jadwal 05.30 – 07.00 perjalanan naik motor sampai PLTA 07.00 – 10.00 trekking ke Sanghyang Heuleut (plus sarapan) 10.00 – 13.00 main-main lucu ( plus makan siang dan sholat) 13.00 – 16.00 balik ke PLTA (plus sholat) 16.00 – 18.00 pulang ke rumah masing-masing

Logistik Individu : Air minum 1,5 liter, sendok garpu, mie dan minuman, roti atau makanan jadi (jaga-jaga kalo ngga bisa masak), baju ganti, sendal atau sepatu gunung, jas hujan, gelas. Kelompok : Motor, kompor, gas, panci, keresek sampah.

Kemudian berangkatlah saya dari Cipageran, Cimahi jam 05.15 menuju Permata rumahnya Hana dan Bang Han. Saya tepat sampai jam 05.30 dan menunggu sebentar kemudian kami meluncur ke PLTA Saguling jam 05.40. Yang harus kamu lakukan pertama kali untuk menemukan Sanghyang Heuleut adalah pergi ke PLTA Saguling. Sangat mudah menemukannya, pertama bisa googling dulu di googlemaps (apalah kita ini ya tanpa google) untuk gambaran arah, kemudian kamu menuju arah Padalarang di Kabupaten Bandung Barat dan sedikit bertanya-tanya arah ke orang-orang di jalan. Plang penunjuk jalan milik Dinas Perhubungan yang menuju PLTA Saguling pun sudah jelas, jadi tidak usah khawatir asalkan mata tetap awas.

Check point pertama masuk ke gapura besar melintang bertuliskan PLTA Saguling, lalu masuk terus saja ikuti jalan sampai bertemu pertigaan kamu ambil kanan, lalu di pertigaan yang kedua kamu juga ambil kanan. Jalan sampai ke sana baik-baik saja, untuk pengendara motor matic seperti saya, beraspal juga, hanya saja lumayan terdapat banyak lubang dan caries tetaplah berhati-hati tidak usah ngebut dan nikmati udara sejuknya.

kalo gambar yang ini pinjem di :
 http://www.berduakelilingindonesia.com/2015/12/curug-sanghyang-heuleut.html

 Check point kedua di pertigaan kedua tersebut terlihat ada pos satpam dan portalnya, kesitu lah kamu masuk, tidak usah minta izin atau terlihat bingung karena di dalam sana juga ada pemukiman warga jadi santai saja berlagak sebagai warga setempat atau karyawan (walaupun bertanya pada satpam pun untuk memastikan arah yang benar, tidak masalah). Keadaan jalan sama seperti tadi.

Check point ketiga adalah kantor Indonesia Power nya, kamu sudah akan mendengar aliran air deras dari PLTA dan sudah bisa melihat dua “pipa” kuning besar yang mengalirkan air ke turbin, terus saja lewati PLTA tersebut, sampai kira-kira 200 meter kamu akan melihat di sebelah kiri SUTET-SUTET dan warung-warung, disitulah kamu memarkirkan motor (5000 rupiah) dan menitipkan helm (2000 rupiah).

Sebenarnya kami tidak tahu harus parkir disitu, kami diberhentikan oleh seorang pemuda dan diberitahu bahwa jika mau ke Sanghyang Heuleut harus parkir disitu. Kami berhenti lalu pemuda tersebut mengatakan sambil tertawa bahwa kami kepagian karena ternyata kami sampai di tempat parkir jam 06.40, hanya satu jam dari Cimahi ke PLTA Saguling. Lalu pemuda tersebut yang belakangan kami tahu namanya Dimas, menawarkan diri sebagai guide dengan tarif 20 ribu per orang (uangnya masuk ke kas karang taruna). Ya mahal sih, tapi karena kami adalah pengunjung pertama, kami tidak tahu juga harus kemana, akhirnya kami ambil tawaran tersebut sambil menawar 50 ribu untuk mengantar kami bertiga, Kang Dimas setuju, hitung-hitung sedekah untuk masyarakat sekitar dan cari teman perjalanan orang situ yang bisa kami tanya-tanya tentang daerah situ.

Check point keempat untuk kamu yang kere dan tidak mau mengeluarkan uang, trekking dimulai dari tempat parkir tersebut. Di seberang tempat parkir ada portal verbooden, masuk saja, karena itu menuju dua “pipa” kuning milik PLTA, tidak ada yang jaga sih. Kamu akan berjalan merunduk-runduk di bawah “pipa” kuning sambil deg-deg an kalo tiba-tiba “pipa” nya bocor. Habis melewati “pipa” kuning kamu harus naik tangga keatas dan akan menemukan jalan setapak tanah menuju perkebunan dan sawah.

 dibawah pipa-pipa segede alaihim
Check point kelima setelah ini mudah saja sih, seperti biasa ikuti jalan setapak yang ada, ada penunjuk jalan menuju Sanghyang Poek, kalo mau berkunjung dulu boleh sih, tapi kami kemarenan tidak, kalo mau langsung lanjut, lurus dan lewati saja tidak usah belok.

Check point keenam ada jembatan bambu yang harus kamu lewati, barulah setelah itu tidak berapa lama kita akan menyusuri sungai dengan melawan arus, sungainya kecil dan tidak terlalu berbahaya sih menurut kami, padahal saat itu masih musim hujan tapi alhamdulillah saat perjalanan kami cerah. Trekking batu-batu tidak terlalu sulit dan tidak ada tanjak-menanjak atau turunan yang ekstrim. Ada beberapa kali kami menyebrang sungai dengan kedalaman selutut, jadi memakai sandal gunung pun cukup, kecuali kamu tidak keberatan menggunakan sepatu basah.

Intinya itu sih yang bisa saya ingat, da setelah itu mah yaudah weh sampe, nggak usah diceritain bagusnya mah, alamin aja sendiri lah. Kalo bekal makanan dirasa kurang, jangan khawatir disana ada tukang gorengan, pop mie, kopi-kopi, tempat ganti baju biasalah tenda-tenda, tapi jangan lupa sampahnya dibawa pulang ya. Si Kang Dimas ini juga cinta kebersihan, dia nggak suka orang-orang yang nggak ngejaga kebersihan di Sanghyang Heuleut ini, dia juga ngebersihin laguna nya dari ranting-ranting bareng sama si Fauzi anak kelas 5 SD yang berenangnya udah kaya lumba-lumba dan manjat batu udah kaya monyet. Ada Pak Andi juga yang menyewakan pelampung, berbaik hati lah sama orang situ, tidak usah tawar menawar terlalu murah, anggap saja sedekah. Inget aja kamu kalo makan di kafe harga 50 ribu untuk makan sendiri dan tidak ada penyesalan, apalagi sama sodara sendiri, harus lebih baek. Oh iya kami sampai di Sanghyang Heuleutnya jam 9 kurang, dengan istirahat 2 kali dan kecepatan yang kalo di rengking --- Noob – Student – Pro --- kami adalah student jadi kurang lebih trekking Sanghyang Heuleut adalah 1 – 2 jam jalan kaki, dan jadwal kami jadi lebih maju, lebih cepat satu jam. Selamat Belajar!!

Selamat menempuh perjalanan!


No comments:

Post a Comment