Seorang manusia laki-laki pernah bertanya padaku,
"Menurutmu apa hal tersulit bagi seorang laki-laki?"
Tidak kuingat persis bagaimana redaksi kalimatnya, namun kurang lebih itulah pertanyaanya. Aku sendiri lupa apakah sebelum kalimat ini kami sedang membicarakan tentang sesuatu ataukah tiba-tiba tanpa intro dan kata pengantar, manusia laki-laki ini bertanya padaku lewat sebuah aplikasi pesan online.
Sejujurnya aku sama sekali tidak terpikir jawaban macam apa yang manusia laki-laki ini inginkan. Agak gambling akupun mengirim pesan kepada manusia laki-laki yang lain, mempertanyakan hal yang ditanyakan padaku. Karena, mana kutahu? Aku bukan laki-laki kan? Jika manusia laki-laki ditanya tentang apa yang tersulit bagi manusia perempuan, apakah mereka juga akan tahu?
"Membuat komitmen"
Jawab temanku manusia laki-laki yang lain, terima kasih atas bocorannya. Kemudian kujawab pertanyaan manusia laki-laki seakan jawaban itu berasal dari buah pikiranku sendiri.
Jawab temanku manusia laki-laki yang lain, terima kasih atas bocorannya. Kemudian kujawab pertanyaan manusia laki-laki seakan jawaban itu berasal dari buah pikiranku sendiri.
"Tepat sekali" kata manusia laki-laki puas.
"Hm, kenapa?" Seperti yang selalu aku tanyakan kepada manusia laki-laki seakan dia adalah buku ensiklopedia berkacamata. Bahkan dalam mimpinya aku memang selalu banyak bertanya dan dia merasa kerepotan di dalam mimpinya itu.
Percakapan ini terjadi di masa-masa aku menyusun skripsi. Aku sama sekali tidak ingat manusia laki-laki menjawab apa, yang bisa kuingat adalah argumenku sendiri terhadap jawabannya.
"Kurasa, komitmen dalam pernikahan dibangun dan ditopang oleh dua orang, suami dan istri, tentu saja jika sang laki-laki merasa membuat komitmen adalah hal yang sulit itu karena dia tidak sadar bahwa perempuan pun berbagi beban komitmen yang sama. Apakah laki-laki pikir menafkahi orang lain selain dirinya dan bertanggung jawab terhadap kehidupan selain dirinya, lebih sulit daripada perempuan yang harus menelan ego demi keinginan laki-laki, atau perempuan yang bertanggung jawab untuk lebih mendahulukan kebahagiaan laki-laki ketimbang dirinya sendiri bukanlah sebuah komitmen yang sama berat? Kurasa laki-laki yang berpikir seperti itu adalah karena kebodohan dan egoismenya yang tidak melihat bahwa komitmen pernikahan ditanggung bersama. Berapa banyak perempuan yang rela kembali bekerja setelah suaminya terkena PHK? Bukankah itu komitmen untuk mempertahankan rumah tangga? Komitmen macam apa yang kamu maksud?"
Biasanya dia tidak mau kalah, tapi kali ini dia diam dan hanya menjawab
"Jawabanmu bagus.."
Dalam hatiku aku berbangga diri, dasar bodoh, memangnya keinginan perempuan untuk menikah hanyalah seperti pikiran kebanyakan orang? Sebagai jalan keluar dari permasalahan ekonomi atau permasalahan hidup yang lain? Menikah supaya ada yang menafkahi, naif sekali. Pernikahan bukanlah jalan keluar, tapi setidaknya itulah gerbang petualangan baru yang sangat menggiurkan untuk segera dimasuki. Memang sih sepertinya dalam benak wanita, banyak sekali hal-hal indah yang terbayang setelah menikah, aku tidak menyangkal, mungkin itu karena logikanya tertutup kabut wangi dari taman bunga yang bermekaran di hatinya. But i am (too) fully aware that marriage can even attract new problems everyday, but then, berdua lebih enak, kan?
Jadi, apa hal yang tersulit bagi manusia perempuan?
No comments:
Post a Comment