Sudah nonton Little Prince?
Tonton lah
Saya suka sedih melihat hak anak bermain yang tercerabut karena obsesi-obsesi orangtua nya. Tentu tidak salah ketika orangtua menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya, it is natural. Orangtua ingin membantu anak untuk meraih hal-hal hebat, prestisius, yang nantinya disebut prestasi, yang nantinya berbentuk piala atau piagam.
Tapi benarkah hal-hal prestisius itu yang anak kita butuhkan? Bukankah seharusnya kita memberikan yang mereka butuhkan, bukan yang anak-anak/orangtua inginkan.
Karena terkadang anak tidak tahu yang mereka inginkan. Biasanya kita sebagai orangtua lah yang menginginkan sesuatu, lalu menanamkan cita-cita tersebut kedalam diri anak, hingga ketika suatu saat mereka mengejar hal tersebut, orangtua akan secara lega berkata "itu memang keinginan mereka". Masa? bisa jadi.
Contoh ekstrim : saya keseringannya muak, ketika melihat kompetisi-kompetisi di televisi yang menampilkan anak-anak. kompetisi menyanyi, bahkan kompetisi men-da'i. Tidak lucu, anak yang seharusnya lucu imut menggemaskan menjadi ke-om-om an, ke-tante-tante an. Fashion, gaya menyanyi, gaya berceramah, semuanya disulap menjadi ala ala orang dewasa. Dasar Minky Momo si kokolot begog. Jelas-jelas baju-baju seksi itu keinginan si Ibunya yang tidak kesampaian karena badannya sekarang sudah berbentuk 'nangka'. Jangan-jangan Ibunya dendam, karena anaknya lah yang jadi 'penyebab' badannya berbuah. Jadilah anaknya pula dijadikan pelampiasan obsesinya. Barbie.
Contoh tidak terlalu ekstrim : orangtua ingin anaknya menjadi saintis, padahal anaknya ingin menjadi tukang balon.
Contoh ekstrimis : ISIS, katanya.
Yah itulah, jangan terlalu serius, kan?
Mengapa menjadikan anak lebih cepat dewasa ketika orang dewasa lebih ingin menjadi anak-anak? Lupa ya?
Lalu apa hubungannya dengan 'Little Prince'? suka-suka mu lah.
08:07 17-Nov-15
No comments:
Post a Comment