Wednesday, 22 June 2016

When There s An Accident

Sebentar lagi kita akan menghadapi musim mudik, baru saja saya melihat video mengerikan korban kecelakaan yang berguling-guling, sekarat. Tidak tahu bagaimana kelanjutannya, saya hanya tahan melihatnya selama 2 detik, NGGAK TEGA. Katanya sih, korbannya itu dibiarkan berguling-guling sekarat berdarah-darah di aspal.

Kita tidak bisa menyalahkan orang-orang di sekitar yang berkerumun hanya menyaksikan, yang agak menyebalkan mungkin orang yang mengambil videonya, tapi ya berkat itu juga saya jadi ingin menulis topik ini. Orang-orang sekitar yang hanya bisa menonton mungkin juga bingung, harus bagaimana, mungkin juga mereka merasakan kengerian yang sangat dengan hanya melihat orang yang berdarah-darah, atau entah alasan apa lagi untuk menutupi supaya kita tidak terlihat sebagai ignorant person.

"Niat baik saja tidak cukup, menolong pun harus ada ilmunya."

Sepakat. Mungkin sedikit bisa menggambarkan situasi tersebut di atas. Menurut pendapat saya, resiko dalam menolong korban kecelakaan oleh awam medis (orang yang tanpa keahlian/keterampilan medis) dapat terbagi dua :

1. Resiko untuk korban yang ditolong -- such as kerusakan / luka yang ditimbulkan akan lebih parah. Misalnya dalam kasus-kasus patah tulang karena jatuh dll, mengangkat korban harus hati-hati. Salah-salah patah tulang yang tadinya ringan malah bisa tambah parah. Lebih buruk lagi jika kecelakaan mengakibatkan cedera pada tulang belakang atau tulang leher, salah cara mengangkat korban, bisa lumpuh atau mati lah itu orang.

2. Resiko untuk orang yang menolong -- misalnya, ketika terjadi kecelakaan di jalan raya. Pastikan ketika anda mau menolong, area sudah aman, peringatkan dahulu kendaraan sekitar untuk berhenti. Bisa jadi karena penolong panik, ia tidak sadar di sekitarnya kendaraan masih melaju kencang. Akibatnya penolong bisa ikut celaka.

Kemudian resiko penolong yang lain, misalny si korban berdarah-darah. Sebaiknya si penolong pun tetap menaruh waspada, apalagi jika penolong tidak tahu siapa korban, karena penyakit-penyakit korban dapat tertular pada si penolong jika penolong tidak menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, dsb. Mau bagaimanapun darah adalah barang infeksius.


Ini adalah contoh cara menolong korban kecelakaan yang benar --> pake tandu, untuk meminimalisir pergerakan tulang. Sumber : http://jokowarino.id/cara-menolong-orang-korban-kecelakaan/


Tapi jangan sampai dua hal tersebut menjadikan kita ragu-ragu untuk segera berbuat kebaikan. Siapa tahu dari tangan anda sebagai penolong, dapat memperbesar kemungkinan si korban dapat selamat atau memperkecil akibat kecelakaan. Apalagi jika si korban merupakan tulang punggung keluarga, bayangkan kebaikan dan pahala yang dapat anda raih.

Berikut ini beberapa hal yang bisa anda, sebagai orang yang awam medis, lakukan jika terjadi kecelakaan di sekitar anda :

  1. Pertimbangkan dua hal yang telah disebutkan di atas. Resiko terhadap korban dan penolong.
  2. Segera panggil paramedis. Selalu simpan nomor emergency di handphone anda. 
  3. Jika resiko-resiko di atas dapat terjadi karena anda tidak terampil medis, tetap temani korban, katakan pada korban untuk bersabar dan bertahan, katakan bahwa bantuan akan segera datang. Jangan hanya ditonton, di-video-kan. Apalagi jika korban menghadapi sakaratul maut, ingatkan korban untuk bersabar menghadapi maut, ingatkan korban pada Allah, talqin-kan.
  4. Aspal pada siang hari sangat panas, jika memungkinkan segera beri alas, setidaknya pada kepala. Atau payungi.

Sebenarnya saya ingin menekankan pada poin ke-tiga sih, betapa pentingnya hal tersebut, tidak kah kita kasihan pada orang yang sedang sakaratul maut?? Apalagi jika tidak ada yang mengingatkannya untuk mengingat Allah sebelum kematiannya. Bukankah kita pun mau orang lain untuk mengingatkan kita pada Allah jika kematian menjemput??

Dan sebelum itu semua terjadi, ada baiknya kita mengikuti pelatihan kegawatdaruratan untuk awam medis. Yang saya tahu, organisasi yang pernah menyelenggarakan pelatihan tersebut adalah Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), Health Empowerment and Education Project (HEUP), atau kampus-kampus kesehatan lainnya.

Innalilahi wa inna ilaihi roojiuun. Semoga kita mati dalam keadaan khusnul khatimah

No comments:

Post a Comment