Wednesday, 22 June 2016

Selim(b)ut Putra Pangeran

Alkisah di sebuah kerajaan hiduplah Putri yang Dipernona Princess dan adiknya Putra yang Dipertuan Pangeran. Kedua kakak beradik itu kadang akur dan kadang bertengkar tentang siapa yang harus menyapu dan mengepel istana yang luasnya 500 hektar. Sedangkan Raja yang Dipertuan Baginda dan Ratu yang Dipernyonya Maharani telah tua renta sehingga sering meminta mantu.

Di sekitar kerajaan tersebut, di hutan belantara puri air pagar, hiduplah dua kucing yang selalu berkeliaran bersama. Mereka bernama Maramao dan Sergio. Maramao dan Sergio selalu terlihat bersama, berjalan sombong dengan langkah seperti seekor kuda jika berjalan. Mereka adalah kucing preman di daerah kerajaan. Jika melihat kucing lain, mereka segera meledeknya dengan meongan "mao..mao..mao" lalu meludah di depan kucing tersebut. Tapi bukan Maramao dan Sergio yang akan dituturkan kisahnya kali ini.

Di suatu hari yang cerah. Putri yang Dipernona Princess hendak masuk ke kamar adiknya di sayap kanan istana. Melewati lorong gelap dengan semburat cahaya malu-malu setipis rambut Bob Marley di kanan kiri lorong istana. Pintu setinggi 5 meter yang terbuat dari jati belanda berderit kecil ketika Putri mendorongnya dengan gaya dorong sebesar 100 Newton. Belum lagi Putri Princess melangkah masuk, menyeruak bau seperti Gua Pawon yang dihuni 532 kelelawar payau di langit-langit dan dihuni pula oleh 312 ayam asin di lantai bawah. Sedhap, Ratu bilang memang seperti itulah bau kamar bujangan.

Rupanya kata-kata Ratu salah! Bau-bauan mamalia tersebut datang dari selembar kain selimbut di atas kasur Pangeran. Tidak heran jika selama ini Pangeran sangat susah jika dibangunkan subuh hari untuk sahur, rupanya selama ini Pangeran tidak tidur melainkan semaput dalam dekapan selimutnya. Filthy human. Karena sedang akur, Princess kemudian bersedia untuk mencucikan selimbut Pangeran, ia juga dengan baik hati mencucikan seluruh tumpukan pakaian 34 pelayan istana yang belum dicuci selama satu minggu. Untuk meraih pahala di bulan ramadhan.

Namun perasaan hati Putri Princess tidak enak tatkala memasukkan selimbut Pangeran ke dalam mesin giling kain. Secara hati-hati ia masukkan kain selimbut ke dalam air, tiba-tiba sayup-sayup terdengar rintihan kakek-kakek tua. Saat ia menambahkan bubuk pembusa, tiba-tiba terdengar suara gagak bergaok-gaok. Sampai ketika ia memutar mesin giling kain, muncullah semua hal yang membuat kain selimbut tadi berbau kakus jin.

1 kilo terasi mentah, 5 anak ayam pak toni, 3 kantung sampah kerajaan, nenek-nenek yang habis dikerok, beruk lagi makan pepaya, buaya mangap, burung kondor, duren mateng pohon, jus mengkudu, asap knalpot bis madona, dan  terakhir Putra Pangeran sendiri yang hanya pake kolor -- semuanya berloncatan keluar dari mesin giling. Plop, plop, plop! Sungguh membuat Putri Princess terkejut, santet macam apa ini? Siapakah yang mengirim? Sambil terus bertanya-tanya dan menyuruh pulang nenek yang habis dikerok, Putri Princess pun memasukkan kain selimbut ke dalam cairan pewangi.

Sambil menjemur, ia berkontemplasi untuk akhirnya mengambil kesimpulan "ah tidak, ini bukan santet, jin juga ogah deket selimbut bau begitu". Setelah dibebaskan dari pikiran su'udzon, akhirnya seluruh orang di kerajaan menjadi lega dan hidup bahagia selamanya. Termasuk Maramao dan Sergio yang akhirnya menjadi duet kucing ustadz. Alhamdulillah.

--------------------------------------

Balada nyuci selimut hadid yang bau kampret, kurang bau apa selimut kamu sampe aku bisa bikin cerpen gini.
23/06/16

No comments:

Post a Comment