Thursday, 19 May 2016

Perlukah Tablet Tambah Darah?



Yello!

Langsung saja, berdasarkan penelitian yang terakhir saya ikuti, saya terlibat dalam studi kualitatif berkaitan dengan anemia pada remaja putri. Kalo kamu sudah membaca tulisan saya sebelumnya, disitu sudah dijelaskan latar belakang studi tersebut. Kenapa studinya dilakukan di Kota Cimahi dan Purwakarta, serta apa saja yang saya dan tim lakukan pada penelitian tersebut.

Sekarang saya akan membahas sedikit tentang anemia itu sendiri. Pembahasan anemianya tidak akan terlalu dalam membahas penyebab, gejala, dan akibat, yang secara mudah bisa kamu googling sendiri. Tapi saya lebih ke anjuran dan program apa yang sedang pemerintah gulirkan untuk memberantas anemia pada remaja putri ini.

Well, pada dasarnya anemia itu penyakit (penyakit lho!) yang bisa terjadi baik pada manusia laki-laki ataupun manusia perempuan. Anemia bisa disebabkan karena kurangnya zat besi dalam darah, kurangnya vitamin B12 dalam darah, lalu kurangnya asam folat di dalam darah, terus bisa jadi karena menderita penyakit infeksi, gara-gara kelainan genetik, ataupun pendarahan. TAPI 40% anemia yang terjadi di negara-negara berkembang, itu disebabkan karena kurangnya zat besi dalam darah also known as ‘Iron Deficiency Anemia’ atau anemia gizi besi kalo dalam bahasa indonesia.

Why? Whyyy? Kenapa negara berkembang? Kenapa harus karena kekurangan zat besi?? Emangnya zat besi itu asalnya dari mana??

Kenapa negara berkembang? Yah, Indonesia adalah negara berkembang, salah satu karakteristik negara berkembang yaitu masyarakatnya punya kualitas hidup yang rendah. Contohnya? Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, yang somehow berkaitan dengan kurangnya kesadaran akan hidup bersih alias jorok terutama di pedesaan yang mostly banyak tanah – si jorok ini akan menggiring kita ke penyakit-penyakit infeksi semacem cacingan. Terus apa hubungannya cacingan sama anemia gizi besi? You know cacing tambang? Tajir kali ya itu cacing kerja di pertambangan. Bukan. Cacing tambang itu kerjaannya nempel di usus trus minumin darah kamu, ya kurang lebih gara-gara itu zat besi yang ada didalam darah juga kesedot cacing trus malah kebuang bareng eek kamu. Infeksi lain contohnya adalah TBC dan Malaria.

Nah sekarang apa yang kamu tau tentang zat besi? Kamu harus makan apa supaya dapet zat besi yang banyak? Ada dua macem zat besi yang biasa kita dapet dari makanan, yaitu zat besi jenis heme dan non-heme. Nah zat besi jenis heme ini adalah zat besi yang gampang diserap sama tubuh (diserap 25-35%), karena strukturnya. Zat besi heme ditemukan pada makanan yang bersumber dari hewan, kaya DAGING, IKAN, TELUR dan HATI. Sedangkan zat besi non heme berada dalam makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, perlu waktu dan proses yang lebih lama untuk menyerapnya (diserap hanya 1-5%). Belum lagi konsumsi makanan atau minuman yang bisa menghambat penyerapan zat besi.

Tuh dari penjelasan di atas ketemu juga kenapa anemia gizi besi lebih banyak terjadi di negara berkembang. Sumber-sumber zat besi yang mudah diserap, nggak terjangkau sama masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Bukan juga melulu karena faktor ekonomi sih, jaman sekarang banyak anggapan bahwa banyak makan sayur itu lebih sehat daripada makan daging-dagingan. Anggapan begitu nggak salah kalo yang bilang adalah orang tua berusia 49 tahun ke atas, tapi kalo remaja putri yang bilang begini, yah wassalam. Lagian prinsipnya, nggak ada makanan yang lebih baik, semuanya harus saling menyeimbangkan.

Terus gimana tindakan pemerintah untuk memberantas anemia zat gizi besi ini? Terutama pada remaja putri yang lebih beresiko dibandingkan remaja putra – karena menstruasi. Karena ikut dalam studi ini, saya juga baru tau kalo sejak 2015 pemerintah atau Kementrian Kesehatan menggulirkan program pemberian suplemen Tablet Tambah Darah (TTD program) untuk remaja putri sebagai upaya pencegahan anemia. Puskesmas setempat akan bekerja sama dengan sekolah-sekolah dalam wilayah kerjanya, untuk memberikan TTD gratis kepada remaja putri. Tapi belum semua kota menjalankan program tersebut, yah tergantung kesiapan puskesmasnya, di Cimahi sudah ada beberapa daerah yang menjalankan program tersebut. Terus apa kamu tau, sejak tahun 2000 tepung terigu mulai difortifikasi dengan zat besi? Lalu upaya pemerintah lainnya yang utama adalah tentu saja dengan mengatasi penyebab anemianya – mengurangi angka TBC, malaria, cacingan dan lain-lain.

Anjuran Kemenkes RI, konsumsi TTD untuk perempuan usia subur yang tidak hamil :


  • Minum 1 tablet TTD selama 10 hari dimulai pada saat menstruasi, dan 1 tablet per minggu dalam 1 bulan, diminum rutin selama 4 bulan berturut-turut saja.
  • Jadi dalam 1 tahun, TTD yang anda konsumsi adalah sebanyak 52 tablet, yaitu 13 tablet per bulan x 4 bulan per tahun = 52 tablet per tahun

Baru tau? Saya juga.. -__-

Pemberian TTD secara rutin  selama jangka waktu tertentu bertujuan untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat, dan perlu dilanjutkan untuk meningkatkan cadangan zat besi dalam tubuh. Kandungan TTD program harusnya setara dengan 60 miligram besi elemental dan 400 microgram asam folat. Dalam Tabel Kecukupan Gizi 2013 yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI, kecukupan zat gizi besi untuk perempuan usia subur hanya berkisar antara 20-40 mg per hari. Itu sudah termasuk angka kecukupan bagi ibu hamil dan ibu menyusui. Lalu kenapa TTD program kandungannya sampai 60 miligram besi elemental? Menurut saya jawabannya kembali lagi kepada pola makan kita. Angka dalam Tabel Kecukupan Gizi adalah angka yang harus dicapai setiap hari, artinya setiap hari kita harus mengkonsumsi zat besi sebanyak 20-40 miligram per hari tergantung usia dan keadaan hamil atau menyusui. Sedangkan penduduk Indonesia jarang sekali makan zat besi sebanyak itu dalam satu hari. Suplementasi sebenarnya tidak diperlukan apabila zat besi dari makanan sehari-hari sudah mencukupi.

Tantangannya adalah, tau nggak kita berapa banyak makanan yang harus dimakan untuk mencapai kebutuhan zat besi tersebut setiap hari?? Apa kita harus makan 100 gram daging setiap hari?? Terus perlu nggak perempuan sehat dan nggak anemia untuk minum suplemen TTD tadi? Bahaya nggak? Bisa minta gratis nggak ke Puskesmas? Kita bahas nanti lagi ya! Ciao!

Sumber :
Kementrian Kesehatan RI :
Buku Pedoman Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah, 2015
Rekomendasi WHO :
Tabel Angka Kecukupan Gizi 2013 :
http://gizi.depkes.go.id/download/Kebijakan%20Gizi/Tabel%20AKG.pdf

No comments:

Post a Comment