Thursday, 15 October 2015

'Survei Konsumsi Makanan Individu' as a part of TDS

Assalamu’alaikum! Sudah lama tidak berbagi, hari ini kami akan membahas tentang Total Diet Study.
Have you ever heard Total Diet Study? No? Too bad.
Mengenai Total Diet Study atau Studi Diet Total (SDT) dalam bahasa Indonesia ini akan saya bahas secara sederhana saja dari sudut pandang kami sebagai salah satu pelaku studi. Yep, saya (Ira) dan Almi pernah ikut ambil bagian sebagai asisten peneliti atau pengumpul data atau enumerator di rangkaian SDT ini.
Studi Diet Total adalah sebuah rangkaian kegiatan studi yang merupakan bagian dari riset nasional yang berbasis komunitas.
Riset berbasis komunitas? Maksudnya? Bisa dibilang, riset berbasis komunitas adalah riset yang,
1. Berdasarkan Kondisi Masyarakat – riset dilakukan atas dasar permasalahan yang real terjadi di dalam masyarakat (komunitas).
2. Kolaboratif – anggota masyarakat dan peneliti sama-sama terlibat, mempunyai kendali atau berbagi tanggung jawab dan kontrol terhadap riset, semacam ungkapan “dari kita, oleh kita dan untuk kita”.
3. Berorientasi pada Action! – nah proses dan hasil risetnya haruslah berguna dan dapat diterapkan pada anggota masyarakat tersebut agar tercipta perubahan yang positif.
Kembali lagi ke SDT, SDT terdiri dari dua tahap riset, tahap pertama dinamakan SURVEI KONSUMSI MAKANAN INDIVIDU (SKMI) yang sudah dilaksanakan pada Mei s/d Juni 2014, sedangkan tahap kedua yang baru saja kami (Ira doang sih) lakukan yaitu Analisis Cemaran Kimia Makanan pada awal Oktober 2015.
SKMI dilakukan untuk memberikan data dasar konsumsi makanan masyarakat Indonesia. Nah, SKMI ini dilakukan di 34 provinsi, mengerahkan sebanyak 2.372 enumerator untuk target 51.127 rumah tangga yang dikunjungi, dan sebanyak 162.044 individu yang diwawancara. Jawa Barat tentu menjadi salah satu provinsi yang kebagian untuk dikunjungi SKMI ini.
Waktu itu saya (Ira) melakukan SKMI di daerah Kota Cimahi sedangkan Almi di Kota Bandung, iya Mi? Lalu apa yang kami lakukan dalam SKMI tersebut?
1. Mengukur berat badan, tinggi badan atau panjang badan seluruh bayi,anak dan orang dewasa dalam satu rumah tangga.
2. Mewawancarai Ibu Rumah Tangga atau anggota keluarga yang menyediakan masakan untuk keluarga tersebut tentang apa saja yang dimasak pada hari kemarin; bahan makanan yang dimasak; jumlah bahan dan bumbu; cara pengolahan masakan tersebut; dan alat-alat yang digunakan ketika proses memasak. Semacam wawancara resep, but way moooore detail.
3. Mewawancarai seluruh anggota rumah tangga tentang apa dan berapa yang dimakan dan diminum olehnya dalam waktu 24 jam, pada hari kemarin (dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali). Atau kami ahli gizi menyebutnya 24-hour Recall. Bahkan jika anggota rumah tangga membeli makanan di luar rumah, peneliti akan menanyakan dimana dia membeli makanan tersebut (merk atau toko/restoran yang dikunjungi)
4. Menghitung atau mengira-ngira (dengan panduan ya, bukan asal ngarang) jumlah atau berat bahan makanan yang dimakan oleh responden.

Setiap penelitian atau riset pasti mempunyai tantangan tersendiri, untuk saya (mungkin juga untuk enumerator SKMI lain) tantangan saat SKMI adalah tidak semua ingat tentang apa yang ia makan pada hari kemarin. Contoh saja, jika sekarang saya tiba-tiba bertanya pada anda tentang apa yang anda makan hari kemarin secara detail, apakah anda ingat?


Responden (R) : “Kemarin pagi saya bangun tidur minum air putih mbak, saya selalu minum air putih setelah bangun”
Enumerator (E) : “minumnya berapa gelas?”
R : “aduh lupa mbak, kayaknya ada segelas”
E : “gelasnya yang seperti apa?” sambil memperlihatkan buku berisi gambar-gambar alat makan
R : “aduh nggak ada yang kayak disini mbak, itu gelas yang tinggi banget, bentuknya mleyok-mleyok mbak”
E : “gelasnya masih ada bu?”
R : “wah udah dibuang mbak”
E : ……….


Itu baru bertanya tentang minum pagi. Kita lanjutkan –
R : “kalo sarapan kemarin saya beli Seblak (nama makanan) mbak”
E : “segimana bu yang ibu makan”
R : “satu plastik mbak”
E : “harganya?”
R : “aduh nggak tau ya mbak, saya dibeliin suami saya”
E : “belinya dimana?”
R : “kurang tau juga mbak, suami saya habis dines malem, pulangnya pagi jadi beliin saya seblak dulu, mungkin di daerah Padalarang”
E : “pedes bu? isi seblaknya apa bu?”
R : “pedes buanget mbak. Ada mie, sosis, makaroni yang muter-muter sama telur mbak”
E : “sosisnya segimana bu? Mie nya segimana? Makaroninya? Telurnya?”
R : “bisa gila…”


Ya itu cuma sedikit gambaran tentang detailnya apa yang harus kita tanyakan, belum lagi setelah kembali ke base camp, kami harus memperkirakan berat bumbu (garam, bawang, cabe, minyak, dll nya). Jika responden berkenan, kami akan masuk ke dapurnya, melihat alat yang digunakan untuk memasak, lalu meminta responden untuk mengambil kira-kira bumbu yang digunakan untuk kemudian kami timbang di tempat. Bahkan jika bisa dibeli oleh enumerator, maka enumerator akan mendatangi toko/restoran untuk kemudian membeli seperti yang dibeli oleh responden dan menimbang berat bahan makanan penyusunnya. Jika itu makanan kemasan maka enumerator dapat langsung melihat Nutrition Facts nya.
Jadi intinya adalah SKMI ini dilakukan untuk MEMPEROLEH INFORMASI TENTANG GAMBARAN POLA KONSUMSI MAKANAN DAN TINGKAT KECUKUPAN ZAT GIZI PENDUDUK INDONESIA, selain itu menyediakan informasi tentang cara, proses dan alat yang digunakan untuk memasak, serta SKMI ini bertujuan juga untuk memperoleh daftar bahan makanan atau food lists yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia untuk keperluan Analisis Cemaran Kimia Makanan.

Hasil dari SKMI 2014? Dapat anda unduh di 


Tulisan ini dapat dilihat juga di eattraffic.tumblr.com
Right next –> ACKM sebagai bagian dari TDS
Ciao!!
-Irs-


Sumber :
Buku Panduan SKMI, Balitbangkes Kemenkes RI

No comments:

Post a Comment